Redesigning Mandala Krida as a Commercial-Based Reconciliation Arena to Reduce Destructive Conflict Between Supporters
Abstract
Perancangan ulang Stadion Mandala Krida dilatar belakangi oleh meningkatnya potensi konflik destruktif antar suporter
di Indonesia serta kebutuhan stadion berstandar internasional bagi PSIM Yogyakarta yang telah promosi ke Liga 1.
Konflik suporter yang berulang tidak hanya mengancam keselamatan dan nilai-nilai sportivitas, tetapi juga berdampak
pada aspek finansial klub akibat sanksi larangan pertandingan kandang. Oleh karena itu, studi ini merancang Stadion
Mandala Krida sebagai arena rekonsiliasi berbasis komersial, yang mengintegrasikan prinsip Arsitektur Rekonsiliasi dan
standar FIFA Football Stadiums: Technical Recommendations and Requirements (2025). Metode perancangan meliputi
analisis big issue, penerapan teori Konflik Johan Galtung, pendekatan arsitektur rekonsiliasi, serta penyelesaian
kontradiksi desain melalui TRIZ 40 untuk merumuskan solusi arsitektural yang mampu mengatasi implikasi negatif dari
konflik suporter. Hasil perancangan menghasilkan konfigurasi ruang yang mendukung perdamaian—meliputi ruang
ambang rekonsiliasi, ruang memorial, serta ruang naratif—yang dipadukan dengan sistem keamanan stadion, zonasi
tribun, sirkulasi terpisah, dan perimeter berlapis guna mengurangi potensi benturan langsung antar kelompok suporter.
Selain itu, stadion dirancang dengan strategi komersialisasi berkelanjutan melalui area retail, hospitality, dan ruang
bisnis yang tetap produktif meskipun pertandingan tidak berlangsung. Desain akhir menghadirkan stadion berkapasitas
40.000 penonton yang memenuhi standar internasional, mendukung interaksi sosial yang lebih aman, serta memperkuat
ketahanan finansial klub. Perancangan ini diharapkan menjadi model stadion rekonsiliatif yang relevan bagi
perkembangan sepak bola Indonesia.
Collections
- Architecture [4119]
