Studi Perbandingan Karakteristik Campuran Superpave dengan Penambahan Serbuk Ban Karet pada Aspal Pen 60/70 dan Aspal Pg70 Menggunakan Metode Pemadatan Marshall dan Gyratory
Abstract
Perkembangan jumlah kendaraan bermotor di Indonesia terus meningkat, dari 148 juta unit
pada tahun 2022 menjadi 164 juta unit pada tahun 2024, sehingga menuntut ketersediaan
infrastruktur jalan dengan perkerasan yang kuat, tahan lama, dan efisien. Kondisi ini mendorong
perlunya inovasi dalam desain perkerasan, salah satunya melalui penggunaan metode Superpave
yang memanfaatkan aspal Performance Grade (PG) serta pemanfaatan limbah ban karet sebagai
bahan tambah ramah lingkungan. Selain itu, penggunaan metode pemadatan Superpave Gyratory
Compactor (SGC) dinilai lebih representatif terhadap kondisi lapangan dibandingkan metode
Marshall.
Penelitian ini bertujuan membandingkan, menganalisis, dan mengevaluasi pengaruh jenis
aspal, variasi kadar serbuk ban karet, dan metode pemadatan terhadap karakteristik volumetrik,
mekanis, dan durabilitas campuran beton aspal Superpave. Tahapan penelitian dimulai dari
pengujian fisik agregat, aspal, serta aspal dengan serbuk ban karet, kemudian penentuan kadar aspal
optimum (5–7%) dan kadar karet optimum (2–6%). Benda uji dibuat dengan metode Marshall dan
Gyratory, lalu diuji berdasarkan parameter volumetrik, mekanis, dan durabilitas.
Secara ringkas, kinerja campuran beton aspal dipengaruhi oleh jenis aspal, serbuk ban
karet, dan metode pemadatan, di mana aspal PG-70 unggul dengan VITM lebih besar, VMA lebih
rendah, serta IRS lebih tinggi dibanding PEN 60/70. Penambahan serbuk ban karet 2–4%
meningkatkan stabilitas, flow, ITS, CL, IRS, dan TSR, namun pada 6% kinerja menurun, sementara
pemadatan Gyratory lebih baik dari Marshall karena menghasilkan kepadatan lebih rapat
menandakan volumetrik yang lebih baik, stabilitas dan durabilitas lebih tinggi, sehingga campuran
lebih kaku, stabil, dan tahan terhadap kelembapan serta keausan.
