| dc.description.abstract | Latar Belakang: Tuberkulosis (TB) masih menjadi salah satu penyakit infeksi
kronis dengan angka kesakitan yang tinggi di Indonesia. Ketidakpatuhan
penggunaan antituberkulosis dapat menghambat keberhasilan terapi pada pasien
TB dan meningkatkan risiko resistensi obat, kekambuhan, serta kegagalan terapi.
Tujuan: Mengetahui tingkat kepatuhan pengobatan pasien tuberkulosis serta
menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kepatuhan tersebut di Puskesmas
Kota Yogyakarta.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif analitik dengan rancangan
cross-sectional. Pengambilan sampel dilakukan secara convenience sampling
terhadap 117 pasien TB yang telah menjalani pengobatan lebih dari 1 bulan. Data
dikumpulkan menggunakan kuesioner demografi dan kuesioner self-report,
kemudian dianalisis secara deskriptif dan menggunakan uji Chi-Square (p = 0,05).
Hasil: Dari 117 responden, sebagian besar berusia ≥18 tahun (86,3%), berjenis
kelamin perempuan (52,1%), tidak bekerja (63,2%), memiliki PMO (76,1%),
berpendapatan ≤5 juta (96,6%), dan tinggal dalam radius ≤2 km dari puskesmas
(70,9%). Hasil uji deskriptif menunjukkan sebanyak 102 (87%) pasien tergolong
patuh dan sebanyak 15 (13%) pasien tidak patuh dalam menjalani pengobatan.
Hasil uji Chi-Square menunjukkan keberadaan PMO (p = 0,001) meningkatkan
kepatuhan pengobatan secara signifikan. Selain itu, faktor kejadian efek samping
obat (p = 0,001), pengetahuan tentang durasi pengobatan (p = 0,001), stigma
masyarakat (p = 0,004), serta jumlah dan ukuran obat (p = 0,001) juga ditemuka
n memiliki hubungan yang signifikan dengan kepatuhanpengobatan pasien TB
Kesimpulan: Peran PMO, kejadian efek samping obat, pengetahuan mengenai
durasi terapi, stigma, dan jumlah serta ukuran obat berhubungan secara signifikan
dengan kepatuhan pengobatan pasien TB di Puskesmas Kota Yogyakarta. | en_US |