| dc.description.abstract | Nahdlatul Ulama menganut paham Ahlussunah wal Jama'ah, sebuah pola pikir yang mengambil jalan tengah antara ekstrim aqli (rasionalis) dengan kaum ekstrim naqli (skripturalis). Karena itu untuk mempertegas keidentitasannya, maka diputuskanlah sebuah kerangka berpikir bagi kalangan Nahdliyyien yang kemudian dikenal dengan sebutan "Fikrah Nahdliyah". Tujuan penelitian ini, untuk mengetahui apakah khashaish/Ciri ciri Fikrah Nahdliyah di Jawa Timur sudah berjalan dengan baik, selaras dengan yang dikembangkan di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama di Jakarta, ataupun sebaliknya. Menjawab masalah tersebut, penulis menggunakan metode kualitatif, dengan menggunakan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara (interview). Teknik analisis data yang penulis gunakan adalah reduksi data, penyajian data, verifikasi dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitiannya adalah, Fikrah Nahdliyah di PWNU Jawa Timur memiliki peran yang besar, diantaranya; diadakannya FKM, diadakan kader penggerak NU, pesantren studies, pemberdayaan masyarakat, RAPIMDA, pelatihan kepemimpinan, pengobatan gratis, serta silaturrahim PWNU dengan PCNU di Jawa Timur. Khashaish/Ciri ciri Fikrah Nahdliyah; prinsip moderat (Fikrah Tawassuthiyyah), tolerans (Tasammuhiyyah), reformasi (Fikrah Ishlahiyyah), dinamis (Fikrah Tathawwuriyyah) dan metodologis (Fikrah Manhajiyyah). Adapun faktor penghambat Fikrah Nahdliyah; tayangan televisi yang kurang mendidik, rusaknya persaudaraan, politik praktis dan lain sebagainya. Adapun pendukungnya; membangun ukhuwah di tengah tengah masyarakat, berjasa, berkembang dan mandiri, menjadi ummat pelopor, aktualisasi nilai nilai aswaja dan aktualisasi khitthah Nahdlatul Ulama 1926. | en_US |