Peran Guru dalam Pendidikan Budi Pekerti Siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Pacitan
Abstract
Proses belajar mengajar yang berlangsung di Sekolah Menengah Pertama Negeri ( SMPN) I Pacitan adalah proses bagi pembentukan kepribadian siswa sebagai generasi penerus bangsa. Salah satu bagian dari kepribadian yang dimaksud adalah budi pekerti. Proses pembelajaran yang berlangsung bertumpu pada peran guru di dalam keseluruhan proses. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji peran guru di dalam pendidikan budi pekerti siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) I Pacitan. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan analisa data menggunakan statistik. Adapun penulisan laporan penelitian menggunakan metode deskriptif. Penelitian ini berusaha mengungkapkan data tentang: (1) Peran guru dalam pendidikan budi pekerti di Sekolah Menengah Pertama Negeri ( SMPN) I Pacitan, (2) Pola pendidikan budi pekerti siswa di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) I Pacitan, (3) Faktor-faktor yang menunjang dan yang menghambat pelaksanaan pendidikan budi pekerti di Sekolah Menengah Pertama Negeri ( SMPN ) I Pacitan. Dari penelitian yang telah dilakukan dapat dilaporkan hasil penelitian sebagai berikut: (1) Guru memiliki peran yang sangat penting di dalam pembentukan akhlaqul karimah/budi pekerti yang luhur pada siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri ( SMPN) I Pacitan. Peranan yang paling menonjol adalah pada sisi keteladanan, (2) Dalam pembentukan akhlaq siswa, para guru di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) I Pacitan terutama para guru mata pelajaran yang terkait langsung pendidikan akhlaqul karimah/budi pekerti yang luhur yaitu Pendidikan Agama Islam, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) serta guru Bimbingan dan Penyuluhan (BP), telah memiliki acuan yang jelas dan telah memiliki pola yang jelas yaitu dengan pembiasaan, (3) Dukungan seluruh warga sekolah sangat tinggi terhadap pembentukan akhlaqul karimah/budi pekerti yang luhur siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) I Pacitan sangat tinggi, ketersediaan waktu khusus yaitu jam pembiasaan sangat membantu sekalipun hanya satu jam pelajaran. Keberadaan sekolah yang menempati lokasi yang terpisah dengan jarak sekitar 250 M merupakan factor penghambat dominan bagi kesatuan langkah dalam pembentukan akhlaqul karimah/budi pekerti yang luhur.
Collections
- Master of Islamic Studies [1637]
