Pembaruan Pendidikan Pesantren Menurut KH.A. Wahid Hasyim dan Relevansinya Bagi Pendidikan Islam di Indonesia
Abstract
Permasalahan seputar formulasi manajemen pesantren dalam hubungannya dengan peningkatan kualitas SDM juga merupakan isu aktual lain dalam arus perbincangan kepesantrenan kontemporer. Maraknya, perbincangan mengenai isu tersebut tidak bisa dilepaskan dari realitas empirik keberadaan pesantren dewasa ini, yang kurang mampu mengoptimalisasi potensi yang dimilikinya. Pentingnya peningkatan sumber daya umat yang dilahirkan dari rahim pesantren ini, jauh-jauh hari telah dipikirkan oleh K.H. A. Wahid Hasyim. Ia adalah salah satu founding fathers Indonesia yang berasal dari kalangan pesantren. Sebagai sosok yang lahir dan dibesarkan di pondok pesantren Tebuireng Jombang, ia memiliki perhatian penuh pada dunia pendidikan Islam. Pembaruan pendidikan pesantren yang ia lakukan di pondok pesantren Tebuireng pada kurun waktu 1930-an ikut membawa perubahan pada pendidikan Islam pada zaman berikutnya. Penelitian ini adalah library research, metode yang digunakan untuk penelitian ini adalah dokumentatif, yaitu dengan mengumpulkan data primer dan data sekunder. Teknik analisis data yang digunakan analisis isi dan analisis data kualitatif menggunakan model interaktif milik konsep Milles dan Huberman yaitu reduksi, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa KH A. Wahid Hasyim merupakan pemikir progresif dan dinamis. Dimana hasil penelitiannya yang Pertama; Wahid Hasyim melakukan pembaruan pesantren dalam empat bidang: metode pengajaran, institusi, kurikulum, serta penguatan fungsi perpustakaan. 1. pembaruan metodologi pengajaran, Wahid Hasyim menyertakan metode tutorial dalam proses pembelajaran. Di antara tujuan metode ini adalah melatih para siswa berpikir dinamis-kritis, percaya diri, dengan pola dialog dan diskusi antara guru dan siswa, maupun antar siswa. 2. pembaruan di bidang institusi dengan mendirikan Madrasah Nidzamiyah pada tahun 1935, dengan sistem klasikal. 3. pembaruan kurikulum mengintegrasikan komposisi keilmuan umum (70%) dan ilmu agama (30%). 4. akses perpustakaan. Ia melakukan "diversifikasi literatur" dengan koleksi lebih dari 1000 judul buku dan majalah berbahasa Arab, Inggris, Belanda, Indonesia, Jawa, dan Melayu. Hasil penelitian Kedua; Relevansi gagasan pembaruan pendidikan pesantren yang dilakukan Wahid Hasyim terletak pada beberapa bidang 1. metode tutorial membuat siswa lebih aktif dalam berdialektika pemikiran dan keilmuan, kritis-kreatif, dan percaya diri. 2. keilmuan integralistik yang ia aplikasikan membuat para santri leluasa mengakses ilmu pengetahuan. 3. muatan kurikulum 70% ilmu umum dan 30% ilmu agama, memberikan keseimbangan akhirat dan duniawi. 4. akses perpustakaan santri memberi merangsang para santri giat belajar secara mandiri serta lebih leluasa mengakses ilmu pengetahuan.
Collections
- Master of Islamic Studies [1637]
