| dc.description.abstract | Karya ini bermaksud mendeskripsikan pola pendidikan akhlak menurut Al-Ghazali sebagai implementasi dalam pendidikan yang berbasis karakter. Mengingat karakter bangsa yang mengalami kemerosotan yang mengkhawatirkan dari masa ke masa, diharapkan mampu menjadi obat atas penyakit moral tersebut. Konsep akhlak Al-Ghazali yang telah dirumuskan, dengan penanaman secara bertahap sesuai dengan perkembangan usia anak, akan sangat mudah untuk diaplikasikan oleh setiap orangtua dan pendidik. Jenis penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah penelitian kepustakaan (Library Research), yang dikategorikan sebagai penelitian kualitatif. Dari metode penelitian, kajian ini dapat digolongkan sebagai content analysis (analisa isi) dengan pengumpulan data, penyusunan dan menjelaskan dengan metode pendekatan deskriptif analisis. Karena penelitian ini tergolong penelitian kualitatif maka sumber pengkajiannya didasarkan pada sumber primer yaitu kitab karya Al-Ghazali tentang akhlak, Ihya’ Ulumuddin dan Ayyuha Al-Walad, baik dalam bahasa Arab mau pun terjemahan. Selain itu sumber sekunder yang berhubungan dengan tema pembahasan berupa buku dan literatur karya dari beberapa penulis yang membahas tentang akhlak dan karakter. Pendidikan akhlak menurut konsep Al-Ghazali adalah upaya untuk menghilangkan pribadi buruk menuju pribadi yang baik. Agar upaya tersebut dapat terealisasikan, Al-Ghazali merumuskan materi pendidikan dengan penanaman ilmu, ubudiyah, tawakkal dan ikhlas dalam setiap pribadi. Sementara itu pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti yang melibatkan tiga aspek utama; pengetahuan, perasaan dan tindakan. Penulis menemukan kesamaan dalam tujuan dan pola antara pendidikan akhlak menurut Al-Ghazali dan pendidikan karakter. Kedua metode pendidikan tersebut sangat menekankan pada dua dimensi penciptaan manusia; yaitu fisik dan non fisik. Selain itu keduanya sama-sama dipengaruhi oleh lingkungan keluarga dan masyarakat. Konsep pendidikan akhlak Al-Ghazali terbukti bertahan ratusan tahun, hingga penulis berkesimpulan bahwa konsep tersebut layak dijadikan sebagai rujukan dalam pendidikan karakter yang sejatinya adalah perbedaan bahasa dengan pendidikan akhlak. | en_US |