Fenomena Kehidupan Penyimpangan Seksual Non Lokalisasi dan Upaya Pembinaannya di Wilayah Pantura Kabupaten Tegal
Abstract
Penyimpangan perilaku seksual yang dikenal dengan istilah Prostitusi atau Pelacuran adalah suatu pekerjaan yang bersifat menyerahkan diri kepada publik untuk melakukan perbuatan-perbuatan seksual dengan mendapatkan imbalan upah, merupakan akibat perubahan sosial yang terjadi di masyarakat, disebabkan manusia atau masyarakat tidak mampu menghadapi unsur-unsur baru dari perubahan sosial tersebut. Faktor yang melatarbelakangi adalah diantaranya ekonomi, konflik mental, situasi hidup yang tidak menguntungkan pada masa anak-anak dan remaja, pola perilaku yang kurang dewasa, intelegensia rendah, hasrat seksual yang tinggi, sifat malas, keinginan untuk hidup mewah (hedonik), urbanisasi yang tidak teratur, lingkungan yang tidak kondusif dan perumahan yang tidak memenuhi syarat. Penyimpangan seksual yang dilakukan para Wanita Penjaja Seks di Wilayah Pantura Kabupaten Tegal adalah merupakan Penyakit Masyarakat (PEKAT), yang dampaknya secara sosial akan lebih luas dibandingkan dampak secara fisik, karena dapat mengganggu perkembangan kepribadian masyarakat terutama generasi muda yang diharapkan sebagai calon pemimpin bangsa. Permasalahan ini tidak hanya menjadi agenda kalangan orang tua atau masyarakat, agamawan, pendidik, juga bagi Pemda Kabupaten Tegal. Untuk itu melalui tesis ini, penulis ingin memberikan kontribusi pemikiran dalam rangka berpartisipasi mengatasi permasalahan secara komprehensif dan integral sehingga diharapkan mereka para Wanita Penjaja Seks dapat merubah perilakunya dan kembali ke pola kehidupan yang layak di masyarakat sebagaimana anggota masyarakat lainnya. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran mengenai pembinaan-pembinaan yang dilakukan kepada mereka para Wanita Penjaja Seks untuk mengentaskan dirinya dari dunia keterpurukan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis yang bersifat kualitatif, dengan menggunakan teknik pengumpulan data sampling, studi dokumentasi, studi kasus, studi komparasi dan pengamatan langsung di lapangan (grounded research) untuk mengungkapkan fenomena sosial, sehingga dapat diambil kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan keilmiahannya. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan, bahwa penyimpangan seksual yang dilakukan para Wanita Penjaja Seks non lokalisasi di Wilayah Pantura Kabupaten Tegal secara sosial belum maksimal mendapatkan pembinaan-pembinaan dari pihak manapun, yang terjadi baru sebatas pembinaan secara medis yang belum menjamin terjadinya perubahan perilaku dan juga secara signifikan belum mengurangi dampak sosial yang terjadi di masyarakat. Sehubungan dengan temuan penelitian seperti tersebut di atas, maka dapat direkomendasikan hal-hal sebagai berikut: (1) diperlukan adanya identifikasi para Wanita Penjaja Seks (WPS) baik yang ada di lokalisasi maupun non lokalisasi di seluruh wilayah Kabupaten Tegal, untuk mengetahui asal daerah, latar belakang, dampak sosial yang terjadi dan keinginan mereka serta harapan masyarakat, (2) perlu adanya Peraturan Daerah atau peraturan lainnya tentang pelarangan perbuatan yang dikategorikan sebagai Penyakit Masyarakat lengkap dengan solusi-solusi yang ditawarkan dan penerapan sangsi yang tegas bagi para pelanggar aturan, (3) diperlukan adanya sarana rehabilitasi yang lengkap, termasuk fasilitas pelatihan-pelatihan yang dibutuhkan oleh mereka sebagai kompensasi perubahan perilaku dari perbuatan penyimpangan seksual, (4) diperlukan kurikulum dan pembinaan khusus secara komprehensif yang berfungsi untuk mengembalikan nilai-nilai moral dan menghasilkan skill serta etos entrepreneurship, (5) diperlukan adanya political will dan kerjasama serta kesiapan berbagai pihak yang komitmen dengan program integral mengatasi persoalan penyakit masyarakat, (6) diperlukan adanya penataan ulang tentang Tata Ruang Wilayah Kecamatan/Kabupaten, sehingga setiap wilayah jelas peruntukannya.
Collections
- Master of Islamic Studies [1637]
