| dc.description.abstract | Žikir pada dasarnya merupakan sarana untuk berkomunikasi dengan Allah SWT. Dengan melalui zikir akan tercipta ikatan hubungan yang mesra antara seorang hamba (manusia) dengan Sang Khaliq (Allah). Kemesraan hubungan ini diisyaratkan oleh firman-Nya: "Ingatlah kepada-Ku, (niscaya) Aku pun akan mengingat kalian". Dan sebagai buahnya, Allah akan berkenan memberikan kesejahteraan dan kedamaian hidup di dunia dan akhirat.Sementara itu manusia terkadang mengalami frustrasi dalam hidupnya, hal ini bisa jadi karena keinginan yang tidak terpenuhi, hilangnya fasilitas hidup atau karunia, atau mungkin karena terlalu banyak kesalahan/dosa yang telah dilakukan. Hidup pada hakikatnya adalah ujian, oleh karena itu kesiapan mental mutlak dibutuhkan guna menghadapi atau menyikapinya. Salah satu sarana untuk mengeluarkan seseorang dari kondisi frustrasi adalah żikir. Dengan żikir seseorang yang mengalami frustrasi diharapkan akan memiliki tingkat kesabaran yang tinggi dan jiwa optimis. Dari sini ia akan kembali mendapatkan ketenangan hidup.Tesis ini merupakan pengkajian ayat-ayat al-Qur'an tentang zikir dan frustrasi sekaligus hubungan keduanya. Sebagai penelitian literer, data primer tesis ini diperoleh dari al-Qur'an dan data skundernya dari kitab tafsir dan hadis serta sumber pustaka lainnya. Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif berlandaskan fenomologi, dan pengambilan datanya melalui tematik. Adapun datanya menggunakan analisis bahasa dan konsep.Berdasarkan analisis ini dapat diketahui bahwa hakikat zikir adalah proses mencari sandaran hidup yang hakiki guna mencapai ketenangan jiwa dan kesejahteraan. Sementara itu frustrasi pada dasarnya adalah kondisi jiwa yang tidak stabil atau goncang. Oleh karena itu, żikir secara internal bermanfaat untuk menstabilkan kondisi jiwa, dan secara eksternal dapat bermanfaat untuk menciptakan kedamaian umat manusia secara umum. | en_US |