| dc.description.abstract | Penelitian ini dilatarbelakangi bahwasannya Al-Qur’an Surat Al-Jumu’ah Ayat 9-10 sarat dengan nilai-nilai ekonomis. Islam sebagai sebuah tatanan yang bersifat komprehensip dipercayai oleh pemeluknya sebagai ajaran yang secara umum mengarahkan manusia untuk memperoleh dua dimensi kebahagiaan, dunia dan akhirat. Keduanya merupakan kesatuan integral dan tidak dapat dipisahkan sesuai dengan karakter kemanusiaan yang terdiri dari unsur jasmani dan rohani. Di samping itu, Islam juga membuat tatanan aturan yang bersifat inplisit terhadap tata bangunan kemanusiaan itu sendiri yang dapat menghantarkan fungsinya sebagai khalifah fi-al ardhi yang akan berdampak pada relitas kehidupan religi menjadi rahmatan li-alamin. Kehadiran Islam ditujukan untuk memenuhi semua tuntutan kehidupan, memerangi kemiskinan, dan merealisasikan kemakmuran dalam semua sisi kehidupan manusia. Islam merupakan aqidah, ibadah, moral, syari’at, hukum, keputusan, dan perdagangan. Islam sebagai sebuah tatanan yang mengatur kehidupan seseorang bukanlah semata-mata tertuju pada aqidah dan ibadah semata, melainkan ibadah dan mu’amalah, aqidah dan syari’ah, kebudayaan dan peradaban, agama dan negara. Secara spesifik metodologi penilitian ini menggunakan metode kualitatif. Artinya, sebuah metodologi yang dalam pembahasan kajiannya menggunakan studi analisis dari berbagai macam buku, majalah, tafsir, maupun pendapat para ahli (cendikiawan) yang berkompeten dan terkait dengan pembahasan tesis ini. Al-Qur’an Surat Al-Jumu’ah Ayat 9-10, bukan hanya menitikberatkan pada tatanan kedisiplinan Ilahiah semata (horizontal), melainkan disiplin vertikal, karena etos kerja dalam Islam sama dengan kewajiban, bukan saja merupakan ibadah, akan tetapi juga “amal”. Secara eksplisit ayat tersebut mendesak orang-orang yang beriman, yang memiliki kemampuan fisik untuk bekerja keras, dan Allah menjanjikan pertolongan bagi siapa saja yang berjuang dan berlaku baik. Dalam bagian lain Al-Qur’an menyerukan kepada setiap muslim agar menginvestasikan tenaga, fikiran, dan waktunya untuk melakukan amal shaleh, amal yang produktif dan sangat merugi bagi orang-orang yang menyia-nyiakan waktunya, mereka itulah orang-orang yang berpangku tangan dan orang yang bekerja akan tetapi tidak menghasilkan manfaat. Mengabaikan kewajiban atau bermalas-malasan, menunda pekerjaan adalah perbuatan dosa. Selain berdisiplin, sebagai ummat Islam kita juga harus bekerja keras, sebab bekerja keras merupakan ibadah, baik untuk diri pribadi, keluarga, maupun kepentingan orang dan atau masyarakat. Bekerja merupakan inti kegiatan ekonomi, tanpa adanya aktivitas bekerja, maka roda kegiatan ekonomi tidak akan pernah dapat berjalan dengan lancar. Bekerja merupakan kewajiban bagi setiap individu dan masyarakat, tidak ada alasan bagi seorang muslim untuk bermalas-malasan dan menggantungkan kepada pihak lain demi tegaknya sebuah kehidupan masyrakat. Bekerja merupakan fardhu kifayah dalam Islam. Bekerja keras sama dengan ibadah, maka jadikanlah etos kerja atau kerja keras sebagai salah satu cara kita beribadah, baik mendekatkan diri kepada Allah SWT. maupun sebagai cara untuk mendekatkan diri kepada sesamanya manusia melalui pekerjaan (hablum minannas dan hablum min Allah). | en_US |