Show simple item record

dc.contributor.authorHidayat, Mohammad Miftahul
dc.date.accessioned2026-02-23T03:29:24Z
dc.date.available2026-02-23T03:29:24Z
dc.date.issued2000
dc.identifier.urihttps://dspace.uii.ac.id/123456789/60766
dc.description.abstractUsaha manusia dalam memenuhi kebutuhannya merupakan sunnatullah (hukum alam). Berbagai pandangan, pikiran, analisis, dan teori dikembangkan guna mengatur (sekaligus meramal) pemenuhan kebutuhan tersebut. Akan tetapi nilai-nilai moral banyak diabaikan, sehingga muncul kesenjangan sosial, kemiskinan di tengah kemakmuran, konsumerisme, budaya permissive, berbagai bentuk pop-hedonism dan gaya hidup sekuler yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan serta nilai agama. Islam memiliki nilai-nilai yang patut dijadikan alternatif bagi suatu sistem ekonomi yang lebih bermoral. Empat aksioma etika dalam Islam yaitu tauhid (kesatuan), free will (kehendak bebas), al-adl (ekuilibrium) dan pertanggungjawaban (amanah/responsibility) yang mempunyai keterkaitan antara satu dan lainnya, menjadi pertimbangan dasar dalam segala aktivitas (ekonomi). Berdasarkan empat aksioma tersebut, pemenuhan kebutuhan (konsumsi) akan dipengaruhi oleh dua hal pokok yaitu kehalalan suatu komoditas dan kesederhanaan dalam konsumsi. Sedangkan prioritas konsumsi secara hierarki meliputi konsumsi untuk diri sendiri dan keluarga, masa depan serta fungsi sosial (zakat/shadaqah). Redistribusi zakat/shadaqah dapat meningkatkan APC dan MPC, dibandingkan sistem ekonomi non-zakat. Bertingkah laku yang baik dan adanya pembalasan akan perbuatan jelek (jahat) merupakan ajaran semua agama. Mengejar kepuasan material bukanlah tujuan utama, karena kepuasan jiwa/batin (spiritual) juga perlu dipenuhi. Kebaikan (amal shalih) adalah salah satu rasionalisme konsumen dalam Islam, dimana semakin baik tingkah laku seseorang, semakin berhasil orang tersebut. Kebaikan dan keburukan mempunyai akibat (balasan) yang akan diterima (dirasakan) baik ketika hidup di dunia maupun kehidupan setelah mati, dimana kematian merupakan kesempurnaan evolusi manusia. Rasionalisme selanjutnya adalah meninggalkan komoditas-komoditas “buruk” (haram) yang merusak jiwa dan raga.en_US
dc.publisherUniversitas Islam Indonesiaen_US
dc.subjectTeori Konsumsien_US
dc.subjectTeologis-Etisen_US
dc.titleTeori Konsumsi Berorientasi Teologis-Etisen_US
dc.typeThesisen_US
dc.Identifier.NIM970023


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record