| dc.description.abstract | Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh psychological empowerment terhadap innovative work behavior dengan mempertimbangkan peran psychological safety dan informal knowledge sharing sebagai variabel mediasi serta workplace friendship sebagai variabel moderasi. Metode: Penelitian ini melibatkan 433 karyawan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Jawa Tengah. Analisis data dilakukan menggunakan pendekatan Structural Equation Modeling berbasis Partial Least Squares (SEM-PLS). Grand theory yang digunakan adalah Social Exchange Theory (SET), yang menekankan pentingnya hubungan timbal balik dalam interaksi kerja. Temuan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa psychological empowerment berpengaruh positif dan signifikan terhadap innovative work behavior, psychological safety, dan informal knowledge sharing. Selanjutnya, psychological safety terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap informal knowledge sharing dan innovative work behavior. Demikian pula, informal knowledge sharing berpengaruh positif dan signifikan terhadap innovative work behavior. Analisis mediasi mengungkap bahwa psychological safety dan informal knowledge sharing memediasi pengaruh psychological empowerment terhadap innovative work behavior. Pada sisi moderasi, workplace friendship memperkuat pengaruh psychological safety terhadap informal knowledge sharing. Namun, workplace friendship tidak memoderasi hubungan antara psychological safety maupun informal knowledge sharing terhadap innovative work behavior. Orisinalitas: Penelitian ini memberikan kontribusi baru dalam literatur dengan mengintegrasikan psychological empowerment, psychological safety, informal knowledge sharing dan workplace friendship ke dalam satu kerangka model empiris pada konteks UMKM. Studi ini memperluas penerapan Social Exchange Theory (SET) dalam memahami perilaku inovatif karyawan sektor UMKM, yang sebelumnya lebih banyak diteliti pada sektor korporasi besar atau organisasi formal. Keterbatasan: Penelitian ini terbatas pada sampel karyawan UMKM di Jawa Tengah sehingga generalisasi hasil masih perlu diuji pada konteks wilayah, sektor, atau jenis organisasi yang berbeda. Selain itu, desain penelitian yang bersifat cross-sectional belum mampu menangkap dinamika hubungan antarvariabel dalam jangka panjang. Penelitian lanjutan diharapkan dapat menggunakan pendekatan longitudinal maupun memperluas variabel kontekstual lain yang dapat memperkaya pemahaman tentang perilaku kerja inovatif. Implikasi: Hasil penelitian ini menegaskan bahwa pemberdayaan psikologis karyawan mampu mendorong perilaku kerja inovatif secara langsung maupun melalui penciptaan rasa aman psikologis dan berbagi pengetahuan informal. Kehadiran persahabatan di tempat kerja berperan sebagai faktor kontekstual yang memperkuat transfer pengetahuan, meskipun tidak berimplikasi langsung pada peningkatan perilaku inovatif. Temuan ini memberikan kontribusi teoretis terhadap pengembangan Social Exchange Theory dalam konteks UMKM serta implikasi praktis bagi manajer dalam menciptakan lingkungan kerja yang mendukung pemberdayaan, rasa aman psikologis, dan budaya berbagi pengetahuan. | en_US |