Gurindam Dua Belas dan Masyarakat Pulau Penyengat - Kepulauan Riau (Kajian terhadap Nilai-nilai Pendidikan Islam)
Abstract
Sastra sufi bukan saja bagian dari tradisi panjang dalam kesusastraan Melayu di nusantara melainkan secara langsung menjadi bagian internal dari praktek sosial budaya dan politik yang terkondisikan dan mengkondisikan formasi diskursif masyarakat Melayu terutama di Pulau Penyengat Propinsi Kepulauan Riau, dan secara luas di wilayah Asia Tenggara. Gurindam Dua Belas adalah karya sastra Islam yang berciri khas sufistik buah pena dari Raja Ali Haji seorang cendekiawan, budayawan, ulama Muslim abad ke-19 di Pulau Penyengat. Gurindam Dua Belas ini termasuk karya sastra al-irsyadi yang memuat pesan-pesan edukatif-didaktif bagi rekonstruksi moral dan etika kehidupan. Dalam hal ini yang menjadi penelitian adalah bagaimanakah bentuk Gurindam Dua Belas kaitannya dengan nilai-nilai pendidikan Islam pada masyarakat Pulau Penyengat-Kepulauan Riau? Dan juga aspek apa saja yang ada dalam Pengajaran Gurindam dua Belas? serta bagaimana penerapan konsep dalam Gurindam Dua Belas terhadap kehidupan sehari-hari pada masyarakat Pulau Penyengat-Kepulauan Riau?. Metode yang dipakai dalam penelitian ini memakai teknik pengumpulan data pustaka (library research) dan data lapangan berupa observasi dan interview (field research). Pendekatan yang dipakai adalah pendekatan kajian sosial budaya yang berfungsi untuk mempertimbangkan perilaku masyarakat dengan jalan menguraikan adat tradisi serta background masyarakat Pulau Penyengat. Data-data yang diperoleh di analisis dengan menggunakan content analysis dan hermeneutik. Kedua metode analisis ini berfungsi untuk menarik kesimpulan melalui usaha menemukan karakteristik tentang makna dan pesan yang terkandung dalam teks-teks Gurindam Dua Belas yang dilakukan secara obyektif dan sistematis. Dari kajian terhadap Gurindam Dua Belas dengan berbagai prosedur metode penelitian seperti di atas, dapat disimpulkan bahwa Gurindam Dua Belas merupakan karya sastra berbasis pada ideologi Islam yang mengikuti aliran Tasawuf Ghozalian, yaitu perpaduan antara syari’at (hukum Islam) dan hakikat (moralitas dan etika). Tasawuf ini sarat dengan muatan-muatan edukatif-didaktif yang fungsional dan empiris dengan suguhan teks sastra yang terkesan normatif. Muatan-muatan edukatif-didaktif Gurindam Dua Belas ini memiliki empat aspek yaitu; aspek pendidikan wilayah syari’at, tasawuf, etika sosial, dan kepemimpinan.
Collections
- Master of Islamic Studies [1687]
