Akuntansi Syari'ah (Refleksi Akuntansi Berorientasi Sosial dan Pertanggungjawaban)
Abstract
Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 282 Allah memerintahkan kepada umat manusia, apabila melakukan kegiatan transaksi jual-beli secara tunai ataupun kredit dan melakukan transaksi utang-piutang, maka perlu dilakukan pencatatan. Berangkat dari perintah ini, setiap kali membicarakan sistem ekonomi Islam (syari'ah) - termasuk di dalamnya pembicaraan sistem manajemen, akuntansi dan sistem yang lainnya dalam kerangka moderen, tidak lepas dari Al- Qur'an dan As-Sunnah. Dengan demikian, di dalam Islam telah lama mengajarkan proses akuntansi. Akuntansi syari'ah dengan bentuk humanis dan sarat nilai ini, tentu saja memuat nilai- nilai yang tidak dimiliki oleh ilmu lain, misalnya nilai sosial dan pertanggungjawban. Berangkat dari pemikiran di atas, maka problematika tesis ini adalah (1) Bagaimanakah hakekat akuntansi syari'ah dilihat dari perspektif akuntansi sosial dan pertanggungjawaban? (2) Apakah akuntansi itu merupakan suatu bentuk pengetahuan dan praktik yang banyak ditentukan oleh lingkungannya (non value-free), dengan kata lain akuntansi adalah "anak" yang lahir dari budaya setempat (lokal)?. Berdasarkan hasil penelaahan terhadap akuntansi konvensional menunjukkan ada sejumlah persoalan penting yang perlu dicatat. Beberapa diantaranya adalah (1) persoalan kepemihakan, (2) asumsi atau basic concept, (3) efek dari persoalan basic concept tentu saja merembes ketingkat standar, atau bahkan metode akuntansi yang dipilih. Berdasarkan tiga persoalan dasar tersebut di atas, menunjukkan bahwa tidak semua asumsi, postulat, kaidah, dan prinsip-prinsip dalam akuntansi Barat dapat diterapkan untuk lembaga-lembaga atau perusahaan yang menegakkan nilai-nilai Islam. Sebab lembaga atau perusahaan yang menegakkan nilai-nilai Islam memiliki karakteristik berbeda dengan lembaga atau perusahaan Barat. Dengan demikian implikasi dari tiga persoalan dasar yang melekat dalam sistem akuntansi Barat jelas sangat berbeda. Sebagai contoh, kepemihakan dalam Islam adalah kepemihakan pelaporan kepada seluruh pihak yang terlibat dan terkena dampak perusahaan. Dari hasil analisis ditemukan (1) Pada tataran praktis akuntansi syari'ah adalah akuntansi yang berorientasi sosial dan pertanggungjawaban. Sebab akuntansi syari'ah dapat menyajikan atau mengungkap dampak sosial perusahaan terhadap masyarakat dan sekaligus menyajikan laporan pertanggungjawaban yang bersifat humanis, emansipatoris, transendental dan teologikal. Oleh karena itu, konsep dasar akuntansi syari'ah adalah bersifat zakat dan amanah oriented; (2) Perkembangan lebih lanjut akuntansi bukan sekedar dianggap sebagai ilmu (science) dan teknologi universal yang bebas nilai. Akan tetapi, akuntansi adalah produk sejarah yang merefleksikan budaya di tempat akuntansi dilaksanakan. Dengan kata lain, akuntansi syari'ah adalah ilmu dan teknologi universal yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan perubahan yang terjadi di dalam lingkungannya, baik sosial, ekonomi, politik, peraturan perundangan, kultur, persepsi dan nilai [masyarakat] tempat akuntansi syari'ah diterapkan; dan (3) Akuntansi syari'ah adalah akuntansi yang dikembangkan bukan hanya dengan cara "tambal sulam" terhadap akuntansi konvensional, akan tetapi, merupakan pengembangan filosofis terhadap nilai-nilai al- Qur'an yang diturunkan ke dalam pemikiran teoritis dan teknis akuntansi. Oleh karena itu, secara substantif akuntansi syari'ah bersifat humanis, emansipatoris, transendental dan teologikal.
Collections
- Master of Islamic Studies [1599]
