| dc.description.abstract | Pondok pesantren salafiyah dewasa ini tengah dihadapkan kepada suatu kondisi masyarakat yang kecenderungannya telah berubah seiring dengan arus perubahan yang semakin cepat. Namun di tengah-tengah derasnya arus perubahan dan kemajuan peradaban modern seperti yang kita saksikan sekarang ini, ternyata masih ada pesantren yang terkesan menutup dirinya dari arus perubahan dan kemajuan peradaban modern. Padahal sebagai lembaga pendidikan yang berbasis Islam, seharusnya pesantren mampu memposisikan dirinya menjadi agen perubahan masayarakat, bukan malah sebaliknya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sistem pendidikan pesantren salafiyah, sebab-sebab perlunya rekonstruksi, dan metode rekonstruksi sistem pendidikan pesantren salafiyah. Untuk mengumpulkan bahan kajian yang dibutuhkan dalam penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan Library Researsch dengan menggunakan metode deskriptif. Data yang dikehendaki dalam penelitian ini adalah data kualitatif, maka teknik analisis yang dilakukan adalah analisis isi (content analysis). Adapun langkah-langkah yang dilakukan adalah; Pertama, pengumpulan data yang didapat dari hasil kajian pustaka, baik dari sumber primer maupun sekunder. Kedua, pemilihan dan pemilahan data yang diperoleh. Ketiga, menghubungkan data dengan konteks yang sedang diteliti. Keempat, melakukan analisis data dan interpretasi. Setelah penulis melakukan penelitian, diperoleh data bahwa pondok pesantren salafiyah menyimpan ragam masalah di tengah perubahan peradaban modern. Masalah-masalah tersebut adalah sistem kepemimpinan, kurikulum dan sitem pengajaran, sarana dan prasarana, pendidikan keterampilan, serta akses komunikasi ke dunia luar. Jika sistem pendidikan pesantren salafiyah ini tidak segera direkonstruksi, khawatir pesantren akan ditinggalkan masyarakat dan pada gilirannya akan mati dengan sendirinya. Maka, kepada para pengelola pesantren salafiyah diharapkan untuk segera merekonstruksi sistem pendidikan pesantren, terutama pada pola kepemimpinan, struktur kurikulum, metode pengajaran, pengembangan sarana, dan akses ke dunia luar. Kepemimpinan yang kharismatik-paternalistik menjadi responsif-pastisipatif. Cakupan kurikulum perlu diperluas, baik jenis kitabnya maupun aliansi madzhabnya. Dalam sistem pengajaran perlu ditumbuhkan budaya kritis dan inovatif. Untuk pengembangan sarana, perlu didirikan kewirausahaan pesantren agar tidak terlalu bergantung kepada masyarakat dan dunia luar lainnya. Untuk membekali kecakapan hidup santri, perlu dikembangkan pendidikan keterampilan, dan dewasa ini, sudah saatnya pesantren membuka jaringan komunikasi dan informasi ke dunia luar, baik melalui surat kabar, majalah, maupun internet. | en_US |