Resiliensi dan Perilaku Bullying Pada Remaja Akhir
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara resiliensi dan perilaku
bullying pada remaja akhir. Resiliensi dipahami sebagai kemampuan individu untuk
bertahan dan beradaptasi dalam menghadapi tekanan hidup, sedangkan perilaku
bullying didefinisikan sebagai tindakan agresif yang dilakukan secara berulang
dengan tujuan menyakiti individu lain secara fisik, verbal maupun psikologis.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional.
Penelitian dilakukan kepada 119 responden remeja akhir berusia 18-21 tahun.
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala Connor-Davidson
Resilience Scale (CD-RISC 25) yang telah di adaptasi oleh Prawita & Heryadi
(2023) dan skala perilaku bullying adalah The Form of Bullying Scale Prepratation
(FBS-P) yang telah di adaptasi oleh Indah (2017). Hasil penelitian menunjukkan
bahwa terdapat hubungan secara positif antara resiliensi dan perilaku bullying, yang
artinya semakin tinggi tingkat resiliensi individu, maka semakin tinggi pula
kecenderungan perilaku bullying. Hasil ini tidak sesuai dengan hipotesis awal yang
memperkirakan hubungan negatif atau hipotesis ditolak. Analisis lebih lanjut
terhadap aspek-aspek resiliensi menunjukkan bahwa pengaruh spiritualitas
merupakan satu-satunya aspek yang berhubungan negatif dengan perilaku bullying.
Artinya, semakin tinggi nilai spiritualitas yang dimiliki individu, maka semakin
rendah kecenderungannya untuk melakukan tindakan bullying. Temuan ini
menegaskan pentingnya dimensi nilai dan moral dalam membentuk arah
penggunaan resiliensi. Oleh karena itu, pengembangan resiliensi pada remaja perlu
disertai dengan penguatan nilai-nilai etis agar resiliensi tersebut terarah pada
perilaku yang positif dan konstruktif.
Collections
- Psychology [240]
