| dc.description.abstract | Pada tahun 2019-2023 memberikan dampak signifikan terhadap pariwisata global,
termasuk Turki yang sebelumnya berada pada jajaran destinasi utama dunia.
Sebagai respons, Turki merancang kebijakan diplomasi pariwisata yang ditujukan
untuk memulihkan sektor ini, salah satunya dengan menargetkan pasar Indonesia.
Permasalahan yang dikaji adalah bagaimana kebijakan tersebut dirumuskan dan
diimplementasikan, serta sejauh mana efektif dalam menarik kembali wisatawan
Indonesia. Kerangka pemikiran penelitian mengacu pada teori “International
tourism and cultural diplomacy: A new conceptual approach towards global
mutual understanding and peace through tourism” oleh Fabio Carbone (2017).
Argumen sementara penelitian menegaskan bahwa kebijakan Turki yang mencakup
Safe Tourism Certification, promosi digital GoTürkiye, kebijakan bebas visa bagi
WNI, serta dukungan Turkish Airlines merupakan instrumen soft power yang
efektif untuk pasar Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diplomasi
pariwisata Turki bersifat niche dan region-based, dengan preferensi wisatawan
Indonesia. Strategi ini terbukti efektif dengan peningkatan jumlah kunjungan dari
39 ribu pada 2020 menjadi 178 ribu pada 2023. Dengan demikian, kebijakan
pariwisata Turki tidak hanya mendukung pemulihan ekonomi pasca pandemi, tetapi
juga memperkuat hubungan bilateral melalui jalur diplomasi non-tradisional. | en_US |