| dc.description.abstract | Hasrat untuk mendapatkan kebenaran sebenarnya suah mendominasi diri Al- Gazālī semenjak usia dini, sekalipun itu diakuinya sebagai takdir ilahi atas dirinya bukan pilihan dan upayanya sendiri. Hasrat ini mendorongnya untuk mendapatkan ilmu yaqin ilmu yang mengungkapkan obyeknya secara jelas tanpa menyisakan suatu keraguan, tidak juga mendatangkan kemungkinan salah dan keliru, bahkan mampu menimbulkan keyakinan yang pasti. Ilmu yaqin ini tidak dihasilkan dengan menyusun dalil dan kalimat, tetapi dengan nur yang diresapi oleh Allah Swt kedalam qalbu, ini berarti pengetahuan manusia tentang kebenaran tergantung sepenuhnya kepada sesuatu yang berada di luar akal serta dasar-dasar pertimbangan akal. Qalbu yang menurut Al-Gazäli adalah esensi manusia, memang berpotensi mengetahui hakekat segala sesuatu, karena qalbu mendapat instruksi khusus dari Allah Swt, namun dalam melaksanakan tugasnya qalbu terhalang oleh wujud setan dan adanya hawa nafsu, untuk itulah qalbu harus dimenej dan didayagunakan sebagai persiapan meraih anugerah ilahi, Qalbu bening yang biasa mengakses informasi- informasi ke Al Lauh Al Mahfudz ini dihasilkan oleh dua hal, pertama: dzikrullah bersama sikap taqwa, dan yang kedua zuhud yaitu mengosongkan qalbu dari kecenderungan-kecenderungan duniawi dengan memposisikan qalbu hanya untuk Allah Swt semata. Dalam bahasa al Qur'an, qalbu yang tercerahkan dengan Nur al nahi ini disebut sebagai qalbu salim Mmpu merefleksikan keimanan seseorang dalam tindak tanduknya, disamping itu, qalbu ini bertabiat malaki yang cenderung mengarahkan manusia untuk hidup beradab dan berma'rifat kepada Allah Swt. | en_US |