Hubungan Antara Optimisme dan Resiliensi Pada Mahasiswa yang Mengalami Putus Cinta
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara optimisme dan resiliensi pada
mahasiswa yang mengalami putus cinta. Putus cinta seringkali menimbulkan tekanan
psikologis yang berdampak pada kondisi emosional maupun akademik mahasiswa. Optimisme
dipahami sebagai keyakinan positif terhadap masa depan, sedangkan resiliensi merupakan
kemampuan individu untuk bangkit dan beradaptasi setelah menghadapi kesulitan. penelitian
ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional. Subjek penelitian
berjumlah 335 mahasiswa berusia 18-22 tahun yang sedang atau pernah mengalami putus cinta.
Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner daring menggunakan skala optimisme (Life
Orientation Test-Revised/LOT-R) dan skala resiliensi (Connor-Davidson Resilience Scale/CD-
RISC. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman karena hasil uji normalitas
menunjukkan data tidak berdistribusi normal. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan
positif yang signifikan antara optimisme dan resiliensi (r = 0,400; p < 0,01). Semakin tinggi
tingkat optimisme, semakin tinggi pula tingkat resiliensi mahasiswa dalam menghadapi
pengalaman putus cinta. Kategorisasi data menunjukkan sebagian besar mahasiswa berada pada
tingkat resiliensi tinggi, sedangkan optimisme berada pada kategori sedang. Penelitian ini
menegaskan bahwa optimisme berperan penting dalam meningkatkan resiliensi mahasiswa,
meskipun faktor lain seperti dukungan sosial, religiusitas, dan pengalaman hidup juga
berpotensi memengaruhi. Temuan ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam pengembangan
intervensi psikologis untuk membantu mahasiswa mengatasi dampak negatif putus cinta.
Collections
- Psychology [240]
