| dc.description.abstract | Desa wisata memiliki peran penting dalam pengembangan pariwisata berbasis komunitas,
namun sering menghadapi tantangan persaingan ketat dengan destinasi lain yang menawarkan
produk dan layanan serupa. Desa Wisata Gabugan merupakan salah satu desa wisata yang
potensial, tetapi kondisi model bisnis awalnya menunjukkan posisi red ocean karena kurangnya
diferensiasi terhadap pesaing. Penelitian ini bertujuan untuk merancang strategi pengembangan
agar mampu meningkatkan daya tarik wisatawan. Metode yang digunakan adalah pendekatan
Business Model Canvas (BMC) untuk memetakan model bisnis eksisting, dilanjutkan dengan
analisis Blue Ocean Strategy untuk mengidentifikasi peluang diferensiasi dan inovasi. Data
penelitian dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara dengan pengelola desa wisata,
pelaku UMKM, dan wisatawan, serta studi dokumentasi terkait. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa beberapa elemen BMC Desa Wisata Gabugan masih memiliki kesamaan signifikan
dengan pesaing, terutama pada segmen pelanggan, aktivitas utama, dan saluran promosi,
sehingga belum mampu menciptakan nilai unik. Melalui penerapan Blue Ocean Strategy,
ditemukan strategi pengembangan berupa penciptaan program Live-In Edukatif yang menyasar
wisatawan domestik dan mancanegara dengan minat budaya serta edukasi. Selain itu,
penguatan produk UMKM lokal seperti olahan salak dan pegagan diarahkan untuk menjadi
bagian integral dari pengalaman wisata. Strategi ini menekankan tiga ciri utama yaitu fokus,
diferensiasi, dan penciptaan motto, sehingga diharapkan mampu menciptakan daya tarik baru
sekaligus meningkatkan keberlanjutan desa wisata. | en_US |