Perencanaan Jalur Evakuasi dan Titik Kumpul Pada Kawasan Publik dan Kawasan Permukiman Berbasis Community Empowerment (Studi Komparatif: Konsep Persepsi Risiko dan Konsep Partisipatif)
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan antara dua pendekatan community
empowerment, yaitu konsep partisipatif (Abraham et al., 2015) dan konsep persepsi risiko
(Grumbly et al., 2019), dalam perencanaan jalur evakuasi dan titik kumpul pada dua karakter
kawasan, yaitu kawasan publik dan kawasan permukiman, yang sama-sama berada di wilayah
rawan gempa bumi, rawan kebakaran dan kawasan padat di Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu.
Tahapan penelitian diawali dengan Systematic Literature Review (SLR) untuk menentukan
konsep terpilih, yang kemudian diterapkan pada dua karakter kawasan dalam bentuk redesign
kawasan. Selanjutnya, hasil redesign dianalisis menggunakan bantuan perangkat lunak SPSS
for Windows. Hasil uji Independent T-Test Mann-Whitney menunjukkan bahwa pada kawasan
publik, konsep partisipatif lebih unggul dengan nilai mean rank 60,58 dibandingkan konsep
persepsi risiko sebesar 40,42. Sementara pada kawasan permukiman, konsep persepsi risiko
unggul tipis dengan nilai mean rank 51,09 dibandingkan konsep partisipatif sebesar 49,91.
Secara keseluruhan, konsep partisipatif memiliki keunggulan lebih tinggi, dibuktikan dengan
nilai mean rank total sebesar 110,49/200, sedangkan konsep persepsi risiko sebesar 89,51/200.
Berdasarkan temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa konsep partisipatif lebih tepat
diterapkan pada kawasan publik karena mampu mengatasi keterbatasan risiko bencana dengan
memprioritaskan kondisi jalan, daya dukung lahan jalan, dan lalu lintas, sehingga
meningkatkan mobilitas, aksesibilitas, dan produktivitas evakuasi, serta lebih efisien dari segi
Rencana Anggaran Biaya (RAB). Sementara itu, konsep persepsi risiko lebih sesuai untuk
kawasan permukiman, karena selaras dengan karakteristik masyarakat menetap yang
memerlukan respons personal, serta mengutamakan kesadaran, kesiapsiagaan, dan keamanan
saat bencana, dengan efisiensi RAB yang relatif lebih baik pada konteks tersebut.
