Perancangan Pusat Kebudayaan Dengan Pendekatan Arsitektur Resilien di Bantaran Sungai Bone, Gorontalo, Indonesia
Abstract
<Perancangan Pusat Kebudayaan Dengan Pendekatan
Arsitektur Resilien di Bantaran Sungai Bone, Gorontalo,
Indonesia= ini didasari dari Provinsi Gorontalo yang
memiliki banyak ragam budaya yang belum terakomodasi
dengan baik oleh pemerintah. Pendekatan yang
digunakan merupakan pendekatan untuk mengatasi
resiko banjir. Kawasan Bantaran Sungai Bone memiliki
riwayat banjir berkala sehingga diperlukan solusi desain
adaptif dan tangguh agar bangunan dapat berfungsi
secara berkelanjutan. Pusat Kebudayaan tersebut
dirancang sebagai wadah pelestarian budaya lokal
Gorontalo, menyediakan fasilitas seperti ruang
pertunjukan budaya (indoor dan outdoor), ruang
pameran, dan ruang kreatif. Konsep ruang disusun untuk
mengakomodasi kebutuhan masyarakat lokal, wisatawan,
dan seniman.
Metode perancangan meliputi analisis tapak (topografi,
pola banjir, iklim, dan konteks sosial-budaya setempat),
studi literatur tentang arsitektur resiliensi dan pelestarian
budaya lokal, kajian regulasi terkait kawasan rawan
banjir, serta pengembangan konsep desain arsitektur dan
lanskap terintegrasi. Pendekatan ini menghasilkan konsep
bangunan yang adaptif terhadap dinamika banjir,
misalnya dengan elevasi bangunan di atas level banjir.
Penggunaan material tahan air, serta perancangan
lanskap hijau permeabel sebagai penahan banjir dan
area resapan air. Dengan demikian, rancangan Pusat
Kebudayaan ini tidak hanya berperan dalam pelestarian
kearifan lokal Gorontalo, tetapi juga memberikan
lingkungan yang aman, inklusif, dan fleksibel menghadapi
kondisi banjir secara berkelanjutan.
Collections
- Architecture [4119]
