| dc.description.abstract | Seiring dengan meningkatnya jumlah lansia di Indonesia, khususnya di daerah urban seperti Yogyakarta, kebutuhan akan
ruang yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai ruang belajar dan beraktivitas semakin
mendesak. Lansia menghadapi berbagai hambatan dalam menjalani kehidupan aktif baik secara sosial, edukatif, maupun
fisik yang sering kali disebabkan oleh keterbatasan akses, infrastruktur, dan lingkungan yang tidak responsif terhadap
kebutuhan mereka. Oleh karena itu, perancangan Rumah Belajar Lansia dengan pendekatan Arsitektur Perilaku diharapkan
dapat menjawab tantangan ini melalui penyediaan ruang yang inklusif, adaptif, dan memberdayakan.
Konsep perancangan ini menitikberatkan pada pengamatan dan pemahaman terhadap pola perilaku harian lansia dalam
aktivitas belajar dan interaksi sosial. Pendekatan Arsitektur Perilaku menjadi dasar dalam merancang ruang-ruang yang
mampu merespon secara langsung kebutuhan fisik, psikologis, dan sosial penghuni lansia. Ruang dirancang agar dapat
mendorong kemandirian, memberikan rasa aman, dan menstimulasi aktivitas kognitif serta kreatif lansia. Aspek penting
seperti aksesibilitas universal, pencahayaan alami, sirkulasi udara yang baik, serta fleksibilitas penggunaan ruang menjadi
fokus dalam menciptakan lingkungan belajar yang mendukung kesejahteraan holistik.
lansia Melalui rancangan ini, Rumah Belajar Lansia diharapkan dapat menjadi ruang hidup yang lebih manusiawi, di mana
tidak hanya tinggal, tetapi juga tumbuh secara sosial dan intelektual. Rumah ini menjadi wadah untuk lansia tetap aktif,
produktif, dan mandiri, sekaligus mempererat | en_US |