| dc.description.abstract | Pertanian di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, memiliki peran penting dalam
perekonomian dan ketahanan pangan daerah. Namun, sektor ini menghadapi tantangan serius
seperti dampak perubahan iklim dan krisis regenerasi petani yang mengancam keberlanjutan
pertanian. Pemerintah mendorong lahirnya petani milenial dan pengembangan pertanian modern
berbasis teknologi sebagai langkah strategis untuk mengatasi permasalahan tersebut, sehingga
diperlukan fasilitas yang mampu mengembangkan kapasitas petani, khususnya generasi muda,
serta mendorong penerapan pertanian modern.
Kecamatan Turi, Sleman, memiliki potensi besar untuk pengembangan agrikultur berkelanjutan.
Dukungan pemerintah daerah dan keberadaan kelompok petani milenial di kawasan ini memperkuat
urgensi pembangunan Pusat Pengembangan dan Pelatihan Agrikultu. Penelitian ini bertujuan
merancang fasilitas di Wonokerto, Turi, yang meliputi lahan praktik, ruang edukasi, dan greenhouse
sebagai laboratorium pengembangan yang mengintegrasikan konsep agrivoltaics guna mendukung
produktivitas pertanian.
Arsitektur bioklimatik digunakan sebagai pendekatan perancangan untuk menciptakan bangunan
yang adaptif terhadap iklim lokal, hemat energi, dan ramah lingkungan. Penggunaan pencahayaan
alami, ventilasi silang,dan penggunaan material yang sesuai, serta integrasi lanskap diterapkan
untuk meningkatkan kenyamanan ruang. Hasil desain menunjukkan bahwa bangunan yang
dirancang dengan pendekatan arsitektur bioklimatik mampu terintegrasi dengan alam. Hal ini
dibuktikan dengan terpenuhinya prinsip-prinsip arsitektur bioklimatik, dan pengujian terhadap
penghawaan alami dengan CFD menunjukkan bangunan berhasil menerapkan penghawaan alami di
dalam bangunan dengan kecepatan udara yaitu 1.39-2.78 m/s. Pada bangunan area edukasi yang
memerlukan cahaya telah memenuhi standar yang dibuktikan melalui pengujian Dialux, serta
dilengkapi dengan sistem panel surya on-grid berkapasitas sekitar 300 Wp yang mampu memenuhi
sebagian besar kebutuhan listrik harian selama jam penyinaran matahari. Implementasi sistem ini
memberikan penghematan konsumsi listrik sebesar 40–60%. | en_US |