| dc.description.abstract | Memasuki tahun 2025, Kabupaten Garut mengalami
pertumbuhan signifikan dalam sektor ritel modern, ditandai
dengan hadirnya tiga pusat perbelanjaan besar: Ciplaz
Garut, Garut Plaza, dan Citimall Garut. Ketiganya menjadi
pusat aktivitas ekonomi, hiburan, dan bagian dari strategi
city branding Garut sebagai destinasi wisata unggulan.
Namun, pertumbuhan ini diiringi dengan persoalan klasik
kota, yaitu penataan Pedagang Kaki Lima (PKL).
Keberadaan PKL sering kali menimbulkan kesemrawutan,
menurunkan kualitas ruang publik, dan berdampak negatif
terhadap citra kota. Upaya relokasi sering menemui
kegagalan karena lokasi yang tidak strategis dan minim
daya tarik.
Perancangan redesain Garut Plaza sebagai pusat
perbelanjaan berbasis ruang publik yang mengintegrasikan
PKL ke dalam sistem perdagangan formal. Garut Plaza
dipilih selain karena posisinya yang strategis namun juga
dikarenakan adanya usaha pemerintah Garut yang ingin
membangun kembali pusat perbelanjaan legendaris ini.
Pendekatan Public Space digunakan agar desain
menyesuaikan kebutuhan pengguna. Konsep Open Mall
diterapkan untuk menciptakan ruang komersial terbuka
yang mendorong interaksi antara PKL, pengunjung, dan
pelaku usaha ritel modern.
Melalui pendekatan ini, Garut Plaza tidak hanya berfungsi
sebagai pusat belanja, tetapi juga sebagai ruang publik
yang memperkuat identitas kota. | en_US |