Studi Kelayakan Penerapan Bioteknologi pada Pengolahan Sampah Organik Kota Yogyakarta
Abstract
Kota Yogyakarta menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan sampah organik,
terutama setelah penutupan TPA Piyungan pada tahun 2024. Sampah organik yang
mendominasi komposisi timbulan sampah kota membutuhkan solusi pengolahan yang
efektif, efisien, dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kelayakan
penerapan kepada tiga opsi pilihan bioteknologi dalam pengolahan sampah organik,
yaitu: biokonversi menggunakan larva Black Soldier Fly (BSF), Anaerobic Digestion
(AD), dan pengomposan metode bata berongga. Metode yang digunakan dalam
penelitian ini bersifat deskriptif-kualitatif berdasarkan data sekunder dari instansi
terkait dan studi literatur. Studi kelayakan dilakukan melalui analisis aspek teknis,
ekonomi, lingkungan, dan sosial dengan pendekatan Grid Analysis. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa dari ketiga opsi, biokonversi menggunakan larva BSF merupakan
metode paling layak diterapkan di Kota Yogyakarta. Hal ini didasarkan pada efektivitas
reduksi, BSF mampu mengolah sampah organik dalam skala besar, waktu proses yang
singkat dimana dalam 1 siklus hidupnya hanya membutuhkan waktu 30-35 hari,
potensi produk bernilai ekonomis seperti fresh maggot dan pupuk dengan pasar produk
yang dapat diserap oleh sektor peternakan, pertanian, dan program pemerintah, hasil
proyeksi menunjukkan nilai NPV positif dan nilai IRR diatas nilai Cost of Capital
yang disyaratkan, nilai PP kurang dari 3 tahun dengan asumsi umur proyek selama 10
tahun, serta kebutuhan lahan dan sumber daya yang relatif rendah dibandingkan dengan
opsi pengolahan sampah organik lainnya. Rekomendasi dari penelitian ini adalah
pengembangan sistem pengolahan sampah organik berbasis larva BSF secara
terintegritas pada skala kota sebagai upaya pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
