Hubungan Sedekah dengan Subjective Well-being Pada Individu Dewasa Awal di Daerah Istimewa Yogyakarta
Abstract
Fase usia dewasa awal ditandai dengan berbagai tantangan perkembangan, seperti
tuntutan kemandirian ekonomi, penyesuaian sosial maupun pernikahan, serta
pencarian arah karier. Tekanan tersebut kerap menimbulkan stres, ketidakpuasan
hidup, dan ketidakstabilan emosi yang dapat menurunkan subjective well-being.
Perilaku prososial seperti bersedekah dipandang sebagai faktor pelindung yang
mampu meningkatkan kesejahteraan psikologis. Oleh karena itu penelitian ini
bertujuan untuk menguji hubungan antara perilaku sedekah dengan subjective well-
being pada individu dewasa awal di Daerah Istimewa Yogyakarta. Subjective well-
being mencakup tiga dimensi, yaitu kepuasan hidup (life satisfaction), afek positif
(positive affect), dan afek negatif (negative affect). Penelitian ini menggunakan
pendekatan kuantitatif korelasional dengan teknik convenience sampling pada 162
partisipan berusia 20–40 tahun. Instrumen yang digunakan adalah Skala
Bersedekah, Satisfaction with Life Scale (SWLS), serta Positive and Negative Affect
Schedule (PANAS). Hasil menunjukkan bahwa perilaku sedekah berhubungan
positif signifikan dengan kepuasan hidup dan afek positif, serta berhubungan
negatif signifikan dengan afek negatif. Analisis tambahan mengungkapkan bahwa
status pernikahan memperkuat hubungan tersebut, dengan partisipan menikah
menunjukkan kaitan lebih kuat antara sedekah dan subjective well-being
dibandingkan partisipan lajang.
Collections
- Psychology [243]
