| dc.description.abstract | Penelitian ini mengkaji kebijakan diplomasi warisan budaya Turki pada era pemerintahan Recep Tayyip Erdogan, dengan studi kasus transformasi Museum Ayasofya dan Kariye menjadi masjid pada tahun 2020. Transformasi ini memicu respons global yang mencerminkan ketegangan antara kedaulatan nasional dan komitmen internasional terhadap pelestarian warisan budaya. Menggunakan kerangka teori heritage diplomacy yang dikembangkan oleh Tim Winter dan Miloš Todorović, penelitian ini menganalisis bagaimana situs-situs warisan digunakan sebagai instrumen diplomatik untuk memperkuat identitas nasional dan posisi geopolitik Turki. Argumen sementara dari penelitian ini menunjukkan bahwa kebijakan Erdogan bukan hanya bentuk simbolisme religius, melainkan strategi politik luar negeri yang merepresentasikan kekuatan lunak (soft power) Turki di dunia Islam. Temuan menunjukkan bahwa transformasi tersebut tidak hanya menjadi instrumen domestik untuk meraih dukungan politik, tetapi juga sarana diplomasi simbolik yang berkontribusi terhadap posisi Turki dalam percaturan global. Penelitian ini menyoroti kompleksitas antara nilai religius, identitas nasional, dan diplomasi budaya dalam dinamika hubungan internasional kontemporer. | en_US |