Show simple item record

dc.contributor.authorRiyantama, Muhammad Fahdani
dc.date.accessioned2025-10-21T03:18:18Z
dc.date.available2025-10-21T03:18:18Z
dc.date.issued2025
dc.identifier.uridspace.uii.ac.id/123456789/58311
dc.description.abstractPenelitian ini menganalisis proses pengambilan kebijakan Tiongkok terkait upaya penyatuan kembali dengan Otoritas Taiwan di era pemerintahan Presiden Xi Jinping, khususnya pada periode 2020- 2024. Isu Taiwan menjadi prioritas sentral dalam agenda bersejarah Partai Komunis Tiogkok (PKT), dengan adanya dukungan masyarakat dan tekanan yang meningkat dalam lingkungan partai internal. Penelitian ini bertujuan untuk mejelaskan proses pengambilan kebijakan pemerintah Tiongkok di bawah Xi Jinping dalam meningkatkan upaya penyatuan kembali Tiongkok-Taiwan (2020-2024). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui beberapa sumber yang relevan. Adapun faktor internal, social structure & behavior, dan eksternal yang terbagi ke dalam beberapa elemen. Kesimpulan dari faktor internal adanya dampak dari penjajahan Jepang yang memisahkan Otoritas Taiwan dari Tiongkok, sehingga menimbulkan perbedaan identitas antara kedua wilayah yang menciptakan konflik. Sedangkan dari faktor social structure & behavior adanya sifat nasionalisme, ideologi negara yang membangun dukungan rayat dan elit untuk memperkuat legitimasi & pembentukan kebijakan. Dari eksternal terbentuknya kebudayaan lain di Taiwan & intervensi AS yang menjadi ancaman bagi kedaulatan Tiongkok memperkuat legitimasi kebijakan peyatuan untuk menegakkan prinsip Satu Tiongkok.en_US
dc.publisherUniversitas Islam Indonesiaen_US
dc.subjectProses Pengambilan Kebijakanen_US
dc.subjectPenyatuan Kembalien_US
dc.subjectTiongkoken_US
dc.subjectTaiwanen_US
dc.subjectKonfliken_US
dc.titleProses Pengambilan Kebijakan Upaya Penyatuan Tiongkok-taiwan di Era Pemerintahan Xi Jinping (2020 -2024)en_US
dc.typeThesisen_US
dc.Identifier.NIM21323251


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record