Deteksi Abnormalitas Toraks yang Efisien Menggunakan Model Deep Learning Mobile: Studi Komparatif MobileNet, ShuffleNet, dan EfficientNet dengan Grad-CAM
Abstract
Tingginya beban penyakit paru di Indonesia, seperti tuberkulosis, pneumonia, dan gagal
jantung, diperparah oleh keterbatasan jumlah dokter spesialis radiologi. Hal ini menuntut
solusi teknologi yang efisien dan dapat dijalankan di lingkungan dengan sumber daya
terbatas. Penelitian ini mengusulkan penggunaan tiga model deep learning ringan—
MobileNetV2, ShuffleNetV2, dan EfficientNetB0—untuk mendeteksi lima kelainan toraks
utama pada citra X-ray dada (CXR), yaitu pneumotoraks, kardiomegali, nodul/massa,
konsolidasi, dan infiltrasi. Dataset ChestX-ray8 dari NIH digunakan sebagai basis data,
dengan total 12.500 citra yang telah dinormalisasi dan diseimbangkan antar kelas. Pelatihan
dilakukan menggunakan validasi silang 5-fold dan konfigurasi hiperparameter yang
distandarisasi, termasuk batch size 512, optimizer Adam, dan fungsi loss
BCEWithLogitsLoss.
Hasil validasi silang menunjukkan bahwa EfficientNetB0 secara konsisten unggul atas
dua model lainnya, dengan rata-rata F1-score 0,563 ± 0,009, akurasi 0,773 ± 0,005, dan
AUC-ROC 0,772 ± 0,005. Pada tahap pengujian akhir menggunakan 2.500 citra, model ini
kembali menunjukkan performa terbaik dengan macro F1-score 0,556, recall 0,551, dan
AUC-ROC 0,765. Deteksi pneumotoraks menjadi yang paling akurat (AUC-ROC 0,880, F1-
score 0,678), sedangkan kardiomegali dan nodul/massa memiliki performa terendah,
mengindikasikan tantangan dalam mendeteksi kelainan yang bersifat halus atau kecil.
Dari sisi efisiensi, ShuffleNetV2 mencatat waktu inferensi tercepat (~17,6 ms per
citra) dan jumlah parameter paling sedikit (~1,26 juta), menjadikannya kandidat ideal untuk
deployment di perangkat dengan keterbatasan sumber daya. Sebaliknya, meskipun
EfficientNetB0 memiliki kompleksitas lebih tinggi (~4 juta parameter, ~33 ms per citra),
model ini memberikan akurasi dan sensitivitas yang lebih baik, menjadikannya pilihan
utama untuk sistem pendukung diagnosis berbasis AI. Visualisasi Grad-CAM menunjukkan
bahwa model ini mampu mengarahkan fokus ke area patologis, terutama infiltrasi, namun
tetap menunjukkan kelemahan dalam mendeteksi kardiomegali akibat kurangnya aktivasi
pada area jantung. Untuk memvalidasi asumsi penerapan di perangkat terbatas, dilakukan deployment
dan pengujian langsung pada emulator Android dengan konfigurasi minimal (1 core CPU, 2
GB RAM, Android 14). Model berhasil dijalankan secara fungsional dan inference time
tercatat paling efisien pada ShuffleNetV2 (rata-rata 103 ms), disusul oleh EfficientNetB0
dan MobileNetV2. Hasil ini menunjukkan bahwa seluruh model dapat dioperasikan pada
perangkat edge, serta memperkuat relevansi pendekatan ini dalam mendukung sistem deteksi
penyakit paru di lokasi dengan keterbatasan infrastruktur.
Collections
- Master of Informatics [361]
