| dc.description.abstract | Penelitian ini menganalisis upaya geoekonomi pemerintah Tiongkok dalam
meningkatkan ekonomi digital Indonesia melalui kebijakan Digital Silk Road
(DSR) selama periode 2022-2024. Di tengah pesatnya pertumbuhan ekonomi
digital Indonesia yang diproyeksikan mencapai USD 130 miliar pada 2025,
kebijakan Digital Silk Road Hadir sebagai akselerator sekaligus sumber tantangan
strategis. Dengan menggunakan kerangka teori geoekonomi dari Robert Blackwill
dan Jennifer Harris, penelitian ini mengidentifikasi bagaimana Tiongkok secara
sistematis menerapkan tujuh instrumen kekuatan—kebijakan perdagangan,
investasi, keuangan, sanksi (termasuk ketiadaannya), bantuan, siber, serta energi
dan komoditas—untuk mencapai kepentingan nasionalnya. Argumen utama
penelitian ini adalah bahwa tindakan Tiongkok lebih merupakan upaya
"membujuk" (inducement) daripada sekadar "mendukung" (support). Melalui
investasi strategis pada infrastruktur kritis (pusat data Alibaba Cloud), akuisisi
platform dominan (investasi ByteDance di Tokopedia), promosi standar teknologi
(uji coba 5G Huawei), dan program pembangunan kapasitas masif (Huawei
ASEAN Academy), Tiongkok secara bertahap mengikat Indonesia ke dalam
ekosistem teknologi dan keuangannya. Temuan menunjukkan bahwa meskipun
Indonesia mendapatkan keuntungan signifikan berupa akselerasi infrastruktur dan
pertumbuhan nilai ekonomi digital, dinamika ini menciptakan ketergantungan
asimetris yang berisiko terhadap kedaulatan data dan kemandirian teknologi
jangka panjang. | en_US |