| dc.description.abstract | Latar belakang: Penggunaan antibiotik sebagai profilaksis pada tindakan
pembedahan bertujuan untuk menurunkan risiko infeksi pascaoperasi. Namun, jika
tidak digunakan secara tepat, dapat menurunkan efektivitas terapi dan
meningkatkan risiko komplikasi.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola penggunaan dan
ketepatan antibiotik profilaksis bedah di Rumah Sakit Pratama Yogyakarta
menggunakan metode Gyssens.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif menggunakan data
retrospektif pada pasien yang menjalani prosedur bedah tahun 2024 di Rumah Sakit
Pratama Yogyakarta. Analisis data dilakukan menggunakan metode Gyssens dan
hasil penelitian disajikan dalam bentuk statistik menggunakan Google Spreadsheet.
Hasil: Sebanyak 234 data penggunaan antibiotik memenuhi kriteria inklusi.
Antibiotik yang paling sering digunakan adalah seftriakson (70,51%) dan sefazolin
(25,21%). Hasil evaluasi menunjukkan bahwa 24,18% termasuk dalam kategori 0
(penggunaan rasional), sementara 71,72% masuk dalam kategori IVd (terdapat
alternatif antibiotik spektrum lebih sempit) dan 4,10% masuk ke kategori IVa
(terdapat alternatif antibiotik yang lebih efektif sesuai pedoman).
Kesimpulan: Analisis menunjukkan bahwa seftriakson merupakan antibiotik yang
paling banyak digunakan. Sebagian besar pemilihan antibiotik profilaksis belum
sesuai dengan ketepatan menurut algoritma Gyssens, terutama terkait efektivitas
dan spektrum. Sebagian penggunaan antibiotik sudah tepat namun evaluasi berkala
serta pembaruan panduan lokal diperlukan untuk meningkatkan ketepatan terapi. | en_US |