| dc.description.abstract | Sejak Taliban berkuasa pada 15 Agustus 2021, sebagian besar sistem media
yang bebas dan dinamis runtuh dalam sekejap. Tindakan represif yang dilakukan
Taliban dapat dilihat dalam beberapa konteks terutama terkait pembatasan
kebebasan berekspresi. Pembatasan dan ketentuan ketat yang diberlakukan oleh
Taliban menyebabkan merajalelanya sensor mandiri di kalangan media. Taliban
telah mengintimidasi jurnalis dan mengurangi kebebasan yang mengakibatkan
penutupan lebih dari dua ratus organisasi berita. Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis mengapa pemerintah Taliban menggunakan kebijakan represif
terhadap media dan jurnalis di wilayah konflik Afghanistan. Penelitian ini
menggunakan teori state repression oleh Christian Davenport yang terdiri dari tiga
faktor penjelas yang mendorong perilaku represif: dissent provokes, repression
persists, dan democracies pacify. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif
menggunakan literatur melalui situs online, khususnya laporan resmi Reporters
Without Borders (RSF) dan Afghan Independent Journalists Association (AIJA).
Penelitian ini menemukan bahwa adanya tindakan represif Taliban untuk
membentuk sistem kebebasan media di bawah kendalinya, tidak hanya
menghambat kebebasan jurnalisme tetapi juga menciptakan lingkungan yang
berbahaya bagi jurnalis. | en_US |