Show simple item record

dc.contributor.authorFaizah, Nurul
dc.date.accessioned2025-10-03T02:34:55Z
dc.date.available2025-10-03T02:34:55Z
dc.date.issued2025
dc.identifier.uridspace.uii.ac.id/123456789/57999
dc.description.abstractSejak Taliban berkuasa pada 15 Agustus 2021, sebagian besar sistem media yang bebas dan dinamis runtuh dalam sekejap. Tindakan represif yang dilakukan Taliban dapat dilihat dalam beberapa konteks terutama terkait pembatasan kebebasan berekspresi. Pembatasan dan ketentuan ketat yang diberlakukan oleh Taliban menyebabkan merajalelanya sensor mandiri di kalangan media. Taliban telah mengintimidasi jurnalis dan mengurangi kebebasan yang mengakibatkan penutupan lebih dari dua ratus organisasi berita. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis mengapa pemerintah Taliban menggunakan kebijakan represif terhadap media dan jurnalis di wilayah konflik Afghanistan. Penelitian ini menggunakan teori state repression oleh Christian Davenport yang terdiri dari tiga faktor penjelas yang mendorong perilaku represif: dissent provokes, repression persists, dan democracies pacify. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif menggunakan literatur melalui situs online, khususnya laporan resmi Reporters Without Borders (RSF) dan Afghan Independent Journalists Association (AIJA). Penelitian ini menemukan bahwa adanya tindakan represif Taliban untuk membentuk sistem kebebasan media di bawah kendalinya, tidak hanya menghambat kebebasan jurnalisme tetapi juga menciptakan lingkungan yang berbahaya bagi jurnalis.en_US
dc.publisherUniversitas Islam Indonesiaen_US
dc.subjectJurnalisme di Afghanistanen_US
dc.subjectKebebasan berekspresien_US
dc.subjectRepresi Mediaen_US
dc.subjectTalibanen_US
dc.titleTindakan Represif Taliban terhadap Media dan Jurnalis di Afghanistan pada Tahun 2021-2024en_US
dc.typeThesisen_US
dc.Identifier.NIM21323052


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record