Show simple item record

dc.contributor.authorRovyanti, Thifany Salza
dc.date.accessioned2025-09-01T04:10:58Z
dc.date.available2025-09-01T04:10:58Z
dc.date.issued2023
dc.identifier.uridspace.uii.ac.id/123456789/57585
dc.description.abstractKekerasan kultural merupakan isu yang penting untuk dibahas, terlebih yang terjadi terhadap orang dengan albinisme di Tanzania. Kekerasan yang terjadi terhadap orang dengan albinisme di Tanzania telah terjadi sejak tahun 2000. Namun, jika berlandaskan pada jumlah kekerasan yang terdata dan dilaporkan, yakni terdapat pada laporan UTSS yang mana sejak tahun 2006 kekerasan terhadap orang dengan albinisme di Tanzania tercatat sebanyak 158 laporan. Orang dengan albinisme acapkali mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi seperti diperjualbelikan, dibunuh, dimutilasi, dan lainnya. Adapun pada tahun tersebut merupakan masa pemerintahan dari Presiden Jakaya Kikwete. Pada masa pemerintahannya, berbagai kebijakan maupun tindakan telah dilakukan oleh pemerintah dalam mengatasi kekerasan ataupun serangan yang terjadi terhadap orang dengan albinisme. Namun, kekerasan terhadap orang dengan albinisme masih terus terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan dan menganalisis bentuk-bentuk kekerasan kultural yang dialami oleh orang dengan albinisme pada tahun 2006-2015 menggunakan konsep kekerasan kultural yang dicetuskan oleh Johan Galtung. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa aspek agama, bahasa, ilmu formal, hingga kosmologi menjadi kacamata dalam menelaah kekerasan kultural yang terjadi terhadap orang dengan albinisme.en_US
dc.publisherUniversitas Islam Indonesiaen_US
dc.subjectAlbinismeen_US
dc.subjectKekerasan Kulturalen_US
dc.subjectJohan Galtungen_US
dc.subjectPresiden Jakaya Kikweteen_US
dc.subjectTanzaniaen_US
dc.titleKekerasan Kultural Terhadap Orang dengan Albinisme di Tanzania pada Tahun 2006-2015en_US
dc.typeThesisen_US
dc.Identifier.NIM19323178


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record