Arsitektur Antroposen Indonesia
Abstract
Penggunaan konsep arsitektur telah meluas, namun inti utamanya adalah reka bentuk ide menjadi materialitas untuk tujuan tertentu. Sektor bangunan dan konstruksi secara global menyumbang 36% penggunaan energi final dan 39% emisi karbon dioksida, menunjukkan tanggung jawab besar ilmu arsitektur terhadap dampak lingkungan. Istilah Antroposen, yang diusulkan oleh Paul Crutzen, menandai fase kritis bumi di mana nasibnya sangat ditentukan oleh perilaku manusia . Pidato ini memperkenalkan neologisme 'Arsitektur Antroposen' sebagai wacana untuk mendorong gagasan keilmuan, pendidikan, dan praktik arsitektur yang lebih radikal demi penyelamatan bumi. Hal ini mencakup ajakan untuk serius membicarakan perubahan paradigma, praktik arsitektural dan konstruksi, serta pendidikan arsitektur dan kerja sama antardisiplin, termasuk politik. Krisis ini menuntut pemikiran baru dan kreatif, serta menjadi tugas kolektif manusia untuk mengurangi dampak negatif kota, yang meskipun hanya menutupi 3% permukaan bumi, menyumbang 70-80% jejak karbon global. Solusi berbasis alam, seperti mengubah infrastruktur penghasil polusi menjadi produsen oksigen dan ruang sosial yang hidup, serta mengelola limbah air kota secara alami, telah terbukti efektif di beberapa kota global. Di Indonesia, kesadaran Antroposen perlu diwujudkan melalui pengembangan manifesto yang berpihak pada alam, dengan contoh seperti Monumen Antroposen di Bantul yang menggunakan material sampah plastik. Pendidikan arsitektur juga harus bertransisi untuk mengembangkan kurikulum yang sensitif terhadap isu Antroposen, mendorong solusi berbasis alam, dan memanfaatkan teknologi untuk menciptakan keseimbangan antara manusia dan alam.
Collections
- Professor's Speech [30]
