| dc.description.abstract | Pidato pengukuhan ini menyoroti pentingnya ekospiritualisme dan ekomultikulturalisme dalam mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) di Indonesia. Pembangunan global, termasuk di Indonesia, masih didominasi oleh sektor ekonomi yang cenderung mengabaikan pemerataan dan keberlanjutan, mengakibatkan degradasi lingkungan seperti polusi udara, air, tanah, deforestasi, dan kerusakan laut, serta masalah sosial seperti kemiskinan dan rendahnya kualitas hidup. Konsep ekospiritualisme Islam menekankan keseimbangan antara manusia dan alam sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan, dengan alam sebagai aset yang harus dikelola secara arif dan berkelanjutan, serta melarang perusakan lingkungan. Sementara itu, ekomultikulturalisme menggarisbawahi peran kearifan lokal dan budaya dalam melestarikan lingkungan, seperti filosofi Jawa "Hamemayu Hayuning Bawono" dan konsep Batak tentang "tano" yang menyatu dengan alam. Strategi aktualisasi mencakup pendidikan lingkungan, penerapan kearifan lokal, serta kolaborasi lintas sektor dan pemangku kepentingan untuk pengelolaan sumber daya alam yang adil dan berkelanjutan, dengan penekanan pada konsep "reward and punishment" untuk mendorong perilaku pro-lingkungan. Keseluruhan, pidato ini menyerukan pendekatan holistik yang mengintegrasikan nilai-nilai spiritual, budaya, dan ilmiah untuk mengatasi krisis lingkungan dan mencapai SDGs. | |