Show simple item record

dc.contributor.authorBrontowiyono, Widodo
dc.date.accessioned2025-08-08T03:34:59Z
dc.date.available2025-08-08T03:34:59Z
dc.date.issued2023
dc.identifier875110107
dc.identifier.uridspace.uii.ac.id/123456789/57330
dc.description.abstractPidato pengukuhan ini menyoroti pentingnya ekospiritualisme dan ekomultikulturalisme dalam mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) di Indonesia. Pembangunan global, termasuk di Indonesia, masih didominasi oleh sektor ekonomi yang cenderung mengabaikan pemerataan dan keberlanjutan, mengakibatkan degradasi lingkungan seperti polusi udara, air, tanah, deforestasi, dan kerusakan laut, serta masalah sosial seperti kemiskinan dan rendahnya kualitas hidup. Konsep ekospiritualisme Islam menekankan keseimbangan antara manusia dan alam sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan, dengan alam sebagai aset yang harus dikelola secara arif dan berkelanjutan, serta melarang perusakan lingkungan. Sementara itu, ekomultikulturalisme menggarisbawahi peran kearifan lokal dan budaya dalam melestarikan lingkungan, seperti filosofi Jawa "Hamemayu Hayuning Bawono" dan konsep Batak tentang "tano" yang menyatu dengan alam. Strategi aktualisasi mencakup pendidikan lingkungan, penerapan kearifan lokal, serta kolaborasi lintas sektor dan pemangku kepentingan untuk pengelolaan sumber daya alam yang adil dan berkelanjutan, dengan penekanan pada konsep "reward and punishment" untuk mendorong perilaku pro-lingkungan. Keseluruhan, pidato ini menyerukan pendekatan holistik yang mengintegrasikan nilai-nilai spiritual, budaya, dan ilmiah untuk mengatasi krisis lingkungan dan mencapai SDGs.
dc.publisherUniversitas Islam Indonesiaen_US
dc.subjectEkospiritualismeen_US
dc.subjectEkomultikulturalismeen_US
dc.subjectSDGsen_US
dc.titleEkospiritualisme, Ekomultikulturalisme, dan Pencapaian SDGs di Indonesiaen_US


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record