| dc.description.abstract | Indonesia, sebagai negara kepulauan yang terletak di atas ring of fire, memiliki potensi bencana alam yang sangat tinggi seperti gempa bumi, tsunami, dan letusan gunung berapi, yang seringkali menyebabkan hilangnya nyawa dan harta benda. Meskipun fenomena alam ini tidak dapat dihentikan, dampaknya dapat dikurangi melalui mitigasi dan penguatan tradisi baru dalam pengaturan lingkungan binaan. Seiring dengan pertumbuhan populasi, kebutuhan hunian meningkat, namun kesadaran masyarakat dan profesional terhadap potensi ancaman bencana masih rendah, menyebabkan banyak lokasi rawan bencana tetap dihuni. Secara historis, hunian tradisional di Indonesia, seperti rumah kayu yang fleksibel dan rumah panggung, terbukti aman terhadap guncangan gempa dan mampu menghindari banjir, namun modernisasi telah menggantinya dengan bangunan bata yang kaku dan rentan, seringkali mengabaikan tradisi dan teknik yang tepat. Bencana seperti gempa Yogyakarta 2006 dan Palu 2018 menunjukkan kegagalan bangunan modern yang tidak dipersiapkan, menyebabkan ribuan korban jiwa. Oleh karena itu, diperlukan tradisi baru yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan kearifan lokal, seperti penggunaan material ringan dan fleksibel untuk rumah tahan gempa, atau bangunan konvensional yang kuat dan lengkap. Peran pemerintah, pakar arsitektur, dan partisipasi aktif masyarakat sangat krusial dalam membentuk tradisi keselamatan hunian ini, termasuk adaptasi terhadap bangunan vertikal di perkotaan dan persiapan menghadapi tsunami serta erupsi gunung berapi, demi mengurangi korban di masa depan. | |