Evaluasi Adaptabilitas Rumah Sakit Terhadap Open Building Assessment Tool (OBAT) Studi Kasus: Instalasi Gawat Darurat, Instalasi Rawat Inap, dan Instalasi Rawat Jalan RSUD Tipe B di Daerah Istimewa Yogyakarta
Abstract
Rumah sakit menghadapi tantangan adaptabilitas yang semakin kompleks akibat
perkembangan teknologi medis, perubahan pola penyakit, dan dinamika demografi, terutama
di wilayah rawan bencana seperti Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan
mengevaluasi tingkat adaptabilitas pada Instalasi Gawat Darurat, Instalasi Rawat Inap, dan
Instalasi Rawat Jalan di RSUD tipe B menggunakan Open Building Assessment Tool
(OBAT), serta menganalisis validasi model evaluasi untuk konteks Indonesia. Penelitian
menggunakan explanatory sequential mixed method dengan pendekatan kuantitatif melalui
evaluasi OBAT pada empat RSUD tipe B di DIY, dilanjutkan analisis kualitatif melalui
wawancara mendalam dan observasi. Data kuantitatif dianalisis menggunakan delapan
parameter OBAT dengan sistem pembobotan, sedangkan data kualitatif dianalisis
menggunakan pendekatan clustering tematik. Hasil evaluasi menunjukkan tingkat
adaptabilitas berkisar 32,07%-61,69%, dengan 83,33% instalasi berada pada kategori
"Mengikuti beberapa prinsip pendekatan Open Building". Parameter Building Plant
menunjukkan performa terbaik (rata-rata 6,25-7,75), sementara parameter Facade
menunjukkan performa terendah (rata-rata 1,00-2,00). Validasi model mengungkapkan
bahwa tujuh dari delapan parameter OBAT dapat diterapkan dengan interpretasi kontekstual,
namun parameter Facade memiliki relevansi terbatas. Penelitian mengkonfirmasi bahwa
adaptabilitas rumah sakit di DIY dicapai melalui tiga tingkatan: adaptabilitas reaktif
operasional, adaptabilitas terencana taktis, dan adaptabilitas struktural strategis. Model
evaluasi OBAT dapat divalidasi untuk konteks Indonesia dengan penyesuaian interpretasi
yang mempertimbangkan karakteristik konstruksi lokal dan keterbatasan sumber daya.
