| dc.description.abstract | Krisis pangan global yang semakin kompleks mendorong perlunya pendekatan
multidisipliner dalam merumuskan strategi ketahanan pangan yang kontekstual dan
berkelanjutan. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh persoalan akademik berupa
belum terintegrasinya kearifan lokal ke dalam diskursus maqāṣid syarī‘ah,
khususnya dalam konteks ketahanan pangan masyarakat adat. Tujuan dari disertasi
ini adalah untuk: (1) mendeskripsikan dan menganalisis praktik adat Naik Dango
dalam kehidupan pertanian masyarakat Dayak Kanayatn di Kalimantan Barat, dan
(2) mengkaji nilai-nilai maqāṣid syarī‘ah yang terkandung di dalamnya
berdasarkan teori ‘Abd al-Majid al-Najjār, serta menilai kontribusinya terhadap
penguatan sistem ketahanan pangan lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan
kualitatif dan termasuk jenis penelitian lapangan (field research). Objek penelitian
berupa praktik adat Naik Dango. Penelitian ini termasuk penelitian kontekstual-
integratif. Sebagai kerangka berpikir digunakan teori maqāṣid al-syarī‘ah ‘Abd al-
Majid al-Najjār. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Naik Dango bukan semata
ritual syukur atas hasil panen, tetapi merupakan sistem sosial dan ekologis yang
mengatur siklus pertanian, pelestarian benih, distribusi pangan, dan pembentukan
kohesi sosial. Dalam perspektif maqāṣid syarī‘ah, tradisi Naik Dango mewujudkan
empat dimensi penting: (1) (ḥifẓ qīmat al-ḥayāh al-insāniyyah) perlindungan
terhadap nilai kehidupan manusia melalui penguatan spiritualitas dan etika sosial,
(2) (ḥifẓ adz-dzāt al-insāniyyah) perlindungan terhadap jati diri manusia melalui
ketersediaan pangan, pendidikan tradisional, dan stabilitas keluarga, (3) (ḥifẓ al-
mujtama‘) perlindungan terhadap struktur sosial melalui integrasi komunitas dan
keadilan distribusi, serta (4) (ḥifẓ al-muḥīṭ al-māddī) perlindungan terhadap
lingkungan materi melalui pengelolaan hasil tani dan pelestarian ekologi. | en_US |