Show simple item record

dc.contributor.authorImaduddin, Muhammad Aliya
dc.date.accessioned2025-07-25T01:26:41Z
dc.date.available2025-07-25T01:26:41Z
dc.date.issued2019
dc.identifier.uridspace.uii.ac.id/123456789/57152
dc.description.abstractPasca krisis ekonomi 2008 pergerakan populisme menjamur di berbagai pemerintahan di dunia. Inggris tidak luput dari tren populisme yang ada. Sebagai negara yang sering mengedepankan kebijakan politik dalam menentukkan arahnya Inggris berubah menjadi negara yang mengalami dalamnya politik identitas. Kemenangan kubu leave pada Referendum Brexit mengaggetkan dunia. Keluarnya Inggris dari keanggotaan Uni Eropa merupakan fenomena yang tidak serta merta terjadi secara singkat. Terdapat proses pembangunan yang direncanakan oleh politik sayap kanan dimulai dari tahun 2014. Kombinasi retorika politik dan ekonomi dalam menghadapi pengaruh yang ada selama menjadi anggota Uni Eropa merupakan kajian yang menarik di dunia post- liberalism pada saat ini.en_US
dc.publisherUniversitas Islam Indonesiaen_US
dc.subjectBrexiten_US
dc.subjectSayap Kananen_US
dc.subjectInggrisen_US
dc.subjectGlobalisasien_US
dc.subjectMultikulturalismeen_US
dc.titlePengaruh Faktor Ekonomi Dan Politik Terhadap Fenomena Politik Sayap Kanan Inggris 2014-2016: Studi Kasus Referendum Brexiten_US
dc.typeThesisen_US
dc.Identifier.NIM14323062


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record