| dc.description.abstract | Perubahan yang begitu cepat dalam penggunaan teknologi informasi dan komunikasi
sebagai media pembelajaran dapat menyebabkan stres yang disebut sebagai
technostress. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh efikasi
diri terhadap technostress saat kegiatan e-learning pada guru SLB (Sekolah Luar Biasa)
dengan resiliensi sebagai mediator. Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian
korelasional dengan menggunakan variabel mediator. Subjek dalam penelitian ini adalah
80 orang guru SLB (Sekolah Luar Biasa) Negeri di Kota Yogyakarta. Pengumpulan data
menggunakan tiga skala psikologi, yaitu: Skala CD-RISC (Connor-Davidson Resilience
Scale) 10, skala GSE (General Self-Efficacy), dan Skala Technostress. Hipotesis
diformulasikan dan diuji dengan analisis PROCESS. Hasil analisis menunjukkan bahwa
resiliensi berperan sebagai mediator parsial dalam pengaruh efikasi diri terhadap
technostress. Selama melakukan kegiatan e-learning, guru SLB (Sekolah Luar Biasa) dapat
mengalami technostress. Tidak terdapat perbedaan technostress dari para partisipan yang
terkait dengan jenis kelamin, usia, pengalaman menggunakan e-learning, serta kategori
ABK (Anak Berkebutuhan Khusus). Namun, terdapat korelasi yang negatif antara usia
dengan technostress. Melakukan kegiatan e-learning pada siswa berkebutuhan khusus
merupakan tantangan tersendiri bagi guru SLB (Sekolah Luar Biasa), sehingga penting bagi
guru dan orang tua untuk memahami kebutuhan unik anak berkebutuhan khusus dan
mencari solusi yang tepat untuk memastikan anak-anak tersebut tetap dapat mengakses
pendidikan yang berkualitas. | en_US |