Studi Penambahan Fraksi Minyak Serai Wangi Terhadap Kualitas B35
Abstract
Sektor transportasi merupakan penyumbang utama konsumsi minyak bumi di Indonesia, dengan pertumbuhan sekitar 4% per tahun. Untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, dikembangkan alternatif energi ramah lingkungan seperti biodiesel dan bioaditif berbasis sumber daya alam. Minyak atsiri serai wangi yang mengandung fraksi (sitronelal, dan rhodinol), serta minyak terpentin mengandung (a-pinene) memiliki potensi sebagai bioaditif karena sifatnya yang kimia aktif, terbarukan, dan mampu meningkatkan kualitas pembakaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formulasi B35-bioaditif yang memenuhi standar ASTM (angka setana, titik nyala, titik kabut, korosi bilah tembaga, destilasi 90% vol., kestabilan oksidasi, CFPP, angka asam, dan angka iodium), serta mengetahui pengaruh penambahan fraksi a-pinene, sitronelal, dan rhodinol terhadap efisiensi konsumsi serta emisi campuran B35-bioaditif. Tahapan penelitian meliputi: (1) karakterisasi kimia GC-MS FAME, dexlite, bioaditif komersial, sitronelal, rhodinol, a-pinene, (2) blending B35, (3) pembuatan B35- bioaditif, (4) karakterisasi B35-bioaditif, (5) uji skala laboratorium, (6) uji mesin diesel sedang, dan (7) uji mesin diesel berat. Hasil menunjukkan bahwa Formula F2 memiliki angka setana tertinggi (57,4), titik nyala tertinggi (86 °C), torsi maksimum (57,85 Nm), dan emisi HC terendah (43,67 ppm), sehingga dinyatakan sebagai formula terbaik. Formula ini direkomendasikan untuk dikembangkan sebagai bioaditif berbasis minyak atsiri serai wangi pada biodiesel B35. Temuan ini menunjukkan potensi minyak atsiri serai wangi dalam meningkatkan efisiensi pembakaran dan mendukung pengembangan biodiesel berkelanjutan secara ekologis dan ekonomis.
Collections
- Master of Chemistry [59]
