Perancangan Pusat Kreatif di Kota Cirebon dengan Pendekatan Bioklimatik
Abstract
Proyek ini adalah pembangunan Creative Hub dengan pendekatan arsitektur
bioklimatik yang mempertimbangkan konsep merespon iklim dan lingkungan di
Cirebon, yang saat ini menghadapi masalah urban heat island. Bangunan ini
berfungsi sebagai wadah untuk kegiatan kreatif masyarakat dan berfokus pada
tiga sub sektor ekonomi kreatif: kuliner, kriya, dan seni pertunjukan.
Fasilitasnya mencakup Coworking Space, Creative Space, dan Maker Space, yang
mendukung kolaborasi dan produksi karya. Metode perancangan dimulai
dengan mengidentifikasi isu desain bioklimatik, dengan strategi yang meliputi
pengaturan massa bangunan, tata ruang , dan penggunaan teknologi untuk uji
desain, seperti pencahayaan alami dan penghawaan. Hasil simulasi
menunjukkan desain ini dapat memaksimalkan pencahayaan alami dan
mencapai standar penghawaan, velux berada di angka 300 -350 lux yang mana
sesuai dengan standar ruang kerja serta hasil uji desain penghawaan juga
terpenuhi memasukkan penghawaan alami dengan nilai angin 0,5 - 1,2 m/s
dimana nilai tersebut merupakan nilai nyaman dan efektif untuk penghawaan
alami menurut menkes. Proyek ini merupakan bangunan Creative Hub dengan pendekatan
arsitektur bioklimatik yang mempertimbangkan hubungan antara
bentuk arsitektur dengan lingkungan sekitarnya dalam hal ini iklim.
Kondisi iklim di Cirebon saat ini cukup panas hingga menyebabkan
urban heat island di perkotaan sehingga perlu adanya pembangunan
yang merespon hal ini guna mengurangi dampak yang ditimbulkan.
Bangunan Creative hub ini sendiri bertujuan untuk mewadahi
kegiatan kreatif masyarakat Cirebon. Terdapat 4 sub sektor unggulan
ekonomi kreatif yang menjadi fokus perancangan yaitu sub sektor
kuliner, sub sektor kriya, sub sektor seni pertunjukan, dan sub sektor
fotografi. Fasilitas ekonomi kreatif pada bangunan ini merupakan
perpaduan dari beberapa tipologi creative community spaces yaitu
Coworking Space sebuah tempat yang diperuntukkan bekerja secara
bersama untuk menemukan potensi pemikiran berkolaborasi;
Creative Space yang memiliki arti luas mulai dari ruang mencari ide
seperti perpustakaan, seminar sampai ke ruang publikasi dalam
bentuk penjualan, penampilan, pameran, maupun pertunjukan; dan
Maker Space, tempat yang diperlukan untuk proses memproduksi
suatu karya maupun hasil dari ekonomi kreatif, terutama berbasis
dalam seni atau teknik khusus seperti bengkel dan studio.
Metode Perancangan creative hub ini dimulai dengan merumuskan
isu untuk mendapatkan variabel desain berupa perancangan
creative hub dengan pendekatan bioklimatik. beberapa strategi
desain yang diterapkan berupa pengaturan tata massa yang
merespon iklim, tata ruang yang namun tetap nyaman secara
termal, selubung bangunan dengan mempertimbangkan matahari
dan angin sekitar, serta sistem struktur dan infrastruktur. Dilakukan
Uji desain dengan menggunakan software velux untuk menguji
pencahayaan alami dan autodesk CFD untuk mensimulasikan angin
yang masuk ke bangunan. dari hasil simulasi diketahui bahwa
strategi desain yang diterapkan pada bangunan creative hub mampu
memaksimalkan pencahayaan alami di dalam bangunan yang
berkisar antara 250-500 lux dan telah sesuai dengan standart.
sedangkan untuk penghawaan alami pada bangunan sudah
mencapai standart yaitu 0,5-2 m/s. sehingga dapat disimpukan
bahwa strategi arsitektur bioklimatik yang diterapkan pada
rancangan creative hub telah mampu memaksimalkan pencahayaan
dan penghawaan alami pada bangunan.
Collections
- Architecture [4119]
