Pusat Layanan Autis di Palangka Raya dengan Dasar Perancangan Prinsip Aspectss (Akustik, Pembagian Ruang, Ruang Pelarian, Kompartementalisasi, Ruang Transisi, Zona Sensori, dan Keamanan)
Abstract
Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus seperti anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD). Salah satu bentuk layanan pendidikan bagi anak ASD adalah terapi sementara yang bertujuan untuk mengurangi masalah perilaku, meningkatkan kemampuan berbahasa, serta membantu anak beradaptasi secara sosial. Perancangan bangunan terapi untuk anak ASD harus mempertimbangkan pendekatan sensorik karena mereka memiliki sensitivitas berbeda terhadap lingkungan. Di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, fasilitas terapi masih sangat terbatas meskipun jumlah anak ASD terus meningkat. Oleh karena itu, diperlukan pusat layanan autis yang dirancang secara khusus untuk memenuhi kebutuhan sensorik anak, baik yang hipersensitif maupun hiposensitif. Dengan begitu permasalahan perancangan dapat disimpulkan, bagaimana rancangan tata massa pusat layanan autis yang dapat memenuhi kebutuhan anak Autism Spectrum Disorder (ASD) dengan mempertimbangkan karakter anak ASD hipersensitif dan hiposensitif? dan bagaimana elemen ruang dalam terapi yang mempertimbangkan sensorik anak Autism Spectrum Disorder (ASD) dengan memperhatikan keamanan pengguna? Desain mengacu pada pendekatan ASPECTSS (akustik, urutan spasial, ruang pelarian, kompartementalisasi, transisi, zonasi sensorik, dan keamanan), serta memperhatikan iklim tropis setempat. Hasil dari perancangan ini menghasilkan tiga massa bangunan, yaitu bangunan untuk anak hipersensitif, bangunan untuk anak hiposensitif, dan bangunan publik. Pemisahan ini bertujuan untuk mengakomodasi perbedaan kebutuhan sensorik secara lebih optimal. Pada bangunan hipersensitif, aspek akustik difokuskan untuk tidak terlalu mengganggu rangsangan sensorik anak dengan menerapkan elemen dalam ruang seperti acoustic ceiling dan acoustic panel serta penerapan karpet pada lantai. Sementara, pada bangunan hiposensitif elemen acoustic panel dan ceiling masih diterapkan untuk area terapi komunal yang di mana penerapan ini dilakukan untuk menyeimbangkan rangsangan akustik yang dimaksimalkan dari penerapan open plan. Penerapan acoustic panel pada kedua banguna juga digunakan untuk meningkatkan keamanan pada ruang. Secara urutan spasial, bangunan hipersensitif mengikuti urutan kegiatan terapi dari sirkulasi masuk bangunan hingga keluar bangunan. Semantara, bangunan hiposensitif urutan spasial dibuat menyebar berdasarkan kegiatan terapi. Kedua bangunan ini juga memiliki ruang pelarian yang menjadi ruang netral di mana berfungsi jika anak mengalami kewalahan akibat rangsangan sensorik. Sementara, untuk zona sensorik diterapkan dimasing-masing ruang dengan kebutuhan sensorik dari kegiatan terapi itu sendiri.
Collections
- Architecture [4119]
