Karakteristik Campuran Stone Matrix Asphalt (SMA) dengan Limbah Geothermal Sebagai Substitusi Filler menggunakan Metode Pencampuran Bertahap
Abstract
Peningkatan kinerja perkerasan jalan tidak hanya dapat dilakukan melalui inovasi bahan
material, seperti penggunaan limbah geothermal sebagai substitusi filler. Upaya tersebut juga dapat
dilakukan melalui penerapan metode baru dalam proses pencampuran, yaitu metode pencampuran
bertahap, Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik campuran Stone Matrix Asphalt
(SMA) dengan limbah geothermal sebagai substitusi filler menggunakan metode pencampuran
bertahap, mulai dari sisi kinerja volumetrik, kekuatan dan kelenturan, serta durabilitas campuran.
Penelitian dilakukan dengan uji eksperimental laboratorium yang mengacu pada SNI 8129
Tahun 2015 dan Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 Divisi 6 Revisi 2. Proses penelitian merujuk
pada data sekunder (Tolab & Fauziah, 2024a; Tolab & Fauziah, 2024c) dari metode pencampuran
konvensional dengan penggunaan filler limbah geothermal pada campuran SMA untuk dijadikan
bahan pembanding kinerja pencampuran.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa campuran SMA dengan filler limbah geothermal
menggunakan metode pencampuran bertahap menghasilkan kinerja yang lebih unggul dari segi
volumetrik, kekuatan dan kelenturan, serta durabilitas campuran dibandingkan dengan metode
pencampuran konvensional. Pencampuran bertahap menghasilkan rongga yang lebih rendah dan
distribusi aspal yang lebih merata serta meningkatkan stone-on-stone contact agregat. Selain itu,
penggunaan filler limbah geothermal meningkatkan kekuatan dan kelenturan campuran,
membuatnya mampu menahan beban lebih tinggi dan mencegah disintegrasi berlebih. Durabilitas
campuran SMA juga lebih baik karena ukuran void yang rendah dan sifat hydrophobic limbah
geothermal yang membuatnya lebih tahan terhadap air dan suhu ekstrem. Berdasarkan prediksi umur
dan kerusakan jalan, campuran dengan 40% filler limbah geothermal dapat bertahan hingga 33,5
tahun, lebih lama dibandingkan dengan metode konvensional yang hanya mencapai 33,3 tahun.
