| dc.description.abstract | Menurunnya minat masyarakat, khususnya di kalangan remaja, terhadap kesenian wayang menjadi latar belakang
utama dalam perancangan Museum Wayang Indonesia di Kabupaten Wonogiri. Selain itu, rencana Pemerintah Daerah
untuk mengembangkan fasilitas museum yang saat ini masih memanfaatkan bekas rumah tinggal sebagai kantor dan
bangunan joglo sebagai ruang pamer turut menjadi pendorong dilakukannya perancangan baru.
Sebagai upaya untuk meningkatkan daya tarik dan pemahaman pengunjung terhadap warisan budaya tersebut,
pendekatan arsitektur naratif dipilih dalam perancangan museum. Pendekatan ini dirancang agar pengunjung dapat
mengikuti alur cerita yang terstruktur, memahami konten museum dengan lebih mudah, serta memperoleh pengalaman
ruang yang lebih mendalam dan imersif.
Konsep naratif dikembangkan berdasarkan jenis dan asal-usul koleksi yang dimiliki museum, serta mengangkat
salah satu kisah wayang sebagai storyline utama yang kemudian dijadikan landasan dalam proses konseptual maupun
perwujudan desain ruang. Melalui pendekatan ini, museum tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan koleksi,
tetapi juga sebagai medium edukatif dan pengalaman budaya yang hidup.
Diharapkan, melalui perancangan yang mengusung pendekatan naratif ini, kesenian wayang yang kini mulai
terlupakan dapat kembali dihidupkan dan dikenalkan secara lebih luas kepada generasi muda. | en_US |