Efektivitas dan Reaksi Obat yang tidak dikehendaki pada Penggunaan Obat Antiartritis Reumatoid di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta
Abstract
Latar Belakang : Variasi pilihan regimen obat menjadi faktor penting yang
memengaruhi efektivitas terapi pada pasien diagnosis artritis reumatoid (AR).
Ketidaksesuaian antara karakteristik pasien dan regimen obat berpotensi mengurangi
keberhasilan terapi serta meningkatkan kejadian ROTD.
Tujuan : Penelitian ini menganalisis efektivitas terapi, reaksi obat tidak dikehendaki
(ROTD), serta faktor yang memengaruhinya pada pasien diagnosis artritis reumatoid.
Metode : Penelitian berdesain potong lintang pada pasien diagnosis AR yang
menjalani terapi di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta periode 2020-2024 dengan
pengumpulan data rekam medis secara retrospektif.
Analisis Data : Karakteristik pasien dianalisis menggunakan uji Chi-Square atau
Fisher dan regresi logistik untuk mengevaluasi pengaruh signifikan terhadap
efektivitas terapi dan ROTD pada pengobatan AR. Penilaian efektivitas dan ROTD
diamati berdasarkan gejala, tanda klinis, atau keduanya yang tercatat dalam rekam
medis.
Hasil : Penelitian melibatkan 42 penderita AR, dengan 32 diantaranya menunjukkan
perbaikan klinis sebesar 80% pada regimen obat NSAID. Jumlah obat <3 memiliki
peluang efektivitas terapi secara signifikan lebih rendah (OR 0,034, IK 95%=0,001-
0,772). Sebanyak 5 pasien mengalami ROTD peningkatan tekanan darah dan
perdarahan saluran cerna pada pengobatan NSAID.
Kesimpulan : DMARDs merupakan pilihan terapi paling efektif untuk penyakit AR,
sementara NSAID menjadi regimen terbanyak digunakan dan terbukti efektif tetap
berisiko menimbulkan kejadian ROTD.
Collections
- Pharmacy [1896]
