Efektivitas dan Reaksi Obat yang tidak dikehendaki Serta Faktor-faktor yang memengaruhi pada Pengobatan Gangguan Tiroid di RS Akademik UGM Yogyakarta
Abstract
Latar belakang: Terapi gangguan tiroid memiliki respon terapi dan potensi
kejadian efek samping yang berbeda, sehingga perlu dilakukan penelitian terhadap
efektivitas dan kejadian reaksi obat yang tidak diinginkan (ROTD).
Tujuan: Untuk menilai efektivitas dan ROTD serta faktor-faktor yang
memengaruhi pada pengobatan gangguan tiroid.
Metode: Studi observasional potong lintang dengan data retrospektif pada pasien
hipertiroid dan hipotiroid di RS Akademik UGM tahun 2020-2024. Data diambil
dari rekam medis berdasarkan gejala dan/atau tanda klinis. Analisis hubungan
antar-variabel dilakukan menggunakan uji Chi-square atau Fisher, dan dilanjutkan
uji regresi logistik untuk variabel dengan p <0,25.
Hasil: Sebanyak 101 pasien hipertiroid dan 35 pasien hipotiroid diteliti. Terapi yang
banyak digunakan pada pasien hipertiroid berupa kombinasi MMI dan propranolol,
sementara pasien hipotiroid berupa levotiroksin. Efektivitas tercapai pada 72,3%
pasien hipertiroid dan 80% hipotiroid. ROTD ditemukan pada 31,7% pasien
hipertiroid, terutama hipotiroid akibat MMI (n=16), dan 8,6% pasien hipotiroid
berupa hipertiroid dan takikardia. Nilai TSH awal (OR=4,042, IK95%=1,078-
15,161) berpotensi meningkatkan efektivitas terapi hipertiroid, dan jumlah obat
(OR= 12,667, IK95%=1,321-121,469) meningkatkan efektivitas terapi hipotiroid.
Faktor demografi dan klinis pasien tidak berhubungan dengan ROTD.
Kesimpulan: Terapi gangguan tiroid menunjukkan efektivitas yang baik, terutama
pada pasien dengan TSH awal tidak terkendali dan penggunaan <3 obat. Namun,
prevalensi ROTD yang ditemukan perlu perhatian khusus pada pemantauan dosis.
Collections
- Pharmacy [1896]
