Efektivitas dan Reaksi Obat yang tidak dikehendaki pada Penggunaan Obat Antiartritis Reumatoid di RSUD Kota Yogyakarta
Abstract
Latar belakang: Efektivitas terapi antiartritis reumatoid di Indonesia menunjukkan
variasi yang signifikan akibat perbedaan rejimen pengobatan yang digunakan. Studi
yang ada saat ini masih memiliki keterbatasan dalam membahas efektivitas dan
reaksi obat yang tidak dikehendaki (ROTD) antiartritis reumatoid.
Tujuan: Penelitian ini menganalisis efektivitas pengobatan, ROTD, dan faktor-
faktor yang memengaruhinya.
Metode: Penelitian ini berdesain potong lintang pada pasien artritis reumatoid yang
menjalani terapi di RSUD Kota Yogyakarta. Pengumpulan data rekam medis pasien
periode 2020-2024 dilakukan secara retrospektif.
Analisis data: Karakteristik demografis dan klinis terhadap efektivitas dan ROTD
dianalisis menggunakan Uji Chi-Square dan Uji fisher exact dilanjutkan dengan uji
regresi logistik. Penilaian efektivitas menggunakan parameter gejala klinis yang
tercantum dalam rekam medis.
Hasil: Penelitian ini melibatkan 57 pasien dengan obat terbanyak yang digunakan
adalah kalium diklofenak tunggal (35%). Obat paling efektif adalah natrium
diklofenak tunggalserta rejimen kombinasi glukokortikoid dengan 2 OAINS. Tidak
ditemukan faktor-faktor yang memengaruhi efektivitas maupun ROTD. Hampir
semua pasien mengalami kejadian ROTD berupa gangguan saluran pencernaan
berupa mual.
Kesimpulan: OAINS selalu digunakan dalam rejimen terapi kombinasi yang
efektif dan meloksikam merupakan OAINS yang paling sering dicurigai sebagai
penyebab ROTD berdasarkan laporan kasus yang ditemukan.
Collections
- Pharmacy [1896]
