| dc.description.abstract | Latar belakang: Terapi pengobatan gangguan tiroid melibatkan berbagai pilihan
obat dengan profil efektivitas dan keamanan yang bervariasi, yang dapat
dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Tujuan: Untuk menganalisis efektivitas terapi, reaksi obat yang tidak dikehendaki
(ROTD) akibat obat anti-gangguan tiroid, serta faktor-faktor yang memengaruhinya
pada pasien gangguan tiroid.
Metode: Studi observasional potong-lintang secara retrospektif pada pasien
gangguan tiroid di RSUD Kota Yogyakarta periode 2020–2024. Efektivitas terapi
dan kejadian ROTD dinilai berdasarkan gejala dan/atau tanda klinis dalam rekam
medis. Analisis hubungan karakteristik pasien dengan efektivitas dan ROTD
menggunakan Uji Chi-Square/Fisher’s Exact, dilanjutkan analisis regresi logistik
untuk variabel dengan p < 0,25.
Hasil: Penelitian ini melibatkan 170 pasien gangguan tiroid (162 pasien hipertiroid
dan 8 pasien hipotiroid). Efektivitas terapi tercapai pada 67,9% pasien hipertiroid,
dengan tingkat keberhasilan tertinggi pada propiltiourasil (PTU) (78,6%) dalam
kelompok regimen tunggal serta metimazol (MMI) dan propranolol (76,9%) pada
kelompok regimen kombinasi. Respons klinis ini dipengaruhi signifikan oleh jenis
kelamin perempuan (p = 0,048; OR 2,688; IK95% 1,007-7,175). ROTD terjadi pada
39,5% pasien hipertiroid, didominasi gejala mual, dan paling banyak ditemukan
pada pengguna regimen PTU dan propranolol (31,25%), dengan tidak adanya faktor
yang berhubungan signifikan (p > 0,05). Pada pasien hipotiroid, efektivitas terapi
tercapai pada 5 dari 8 pasien, dengan satu kasus ROTD yaitu hipertiroid iatrogenik.
Analisis lebih lanjut tidak dilakukan pada kelompok hipotiroid karena keterbatasan
jumlah sampel.
Kesimpulan: Sebagian besar pasien gangguan tiroid yang mendapatkan
pengobatan menunjukkan respons klinis yang diharapkan. Tingginya kejadian
ROTD mengindikasikan perlunya penelitian lebih lanjut untuk merumuskan
strategi pencegahan yang efektif. | en_US |